halo:))

blog ini isinya curhatan, cerita gaje, dan hal lain yang emang gaje banget yang ditulis sesuka hati. selamat membaca !

Selasa, 18 November 2014

Anggaran Pendapatan Belanja Daerah(APBD)

Diposting oleh Nazilatul Khikmah di 07.35 0 komentar Link ke posting ini

Arti, Fungsi, dan tujuan APBD
Menurut undang-undang no.17 tahun 2003 tentang keuangan negara, APBD merupakan wujud pengelolaan keuangan daerah yang ditetapkan setiap tahun dengan peraturan daerah. Dengan kata lain, APBD adalah daftar terperinci mengenai pendapatan dan pengeluaran daerah dalam waktu satu tahun yang telah disahkan dewan perwakilan rakyat daerah (DPRD).
APBD disusun sebagai pedoman pendapatan dan belanja dalam melaksanakan kegiatan pemerintah daerah. Sehingga dengan adanya APBD, pemerintah daerah sudah memiliki gambaran yang jelas tentang apa saja yang akan diterima sebagai pendapatan dan pengeluaran apa saja yang harus dikeluarkan, selama satu tahun. Dengan adanya APBD sebagai pedoman, maka kesalahan, pemborosan, dan penyelewengan yang merugikan dapat dihindari.
APBD memiliki beberapa fungsi sebagai berikut:
1. Fungsi penyelenggaraan pemerintah yang terdiri dari pelayanan pembangunan dan pemberdayaan.
 
2. Sebagai stimulus pertumbuhan ekonomi daerah.
3. Sarana evaluasi pencapaian kinerja dan tanggung jawab pemerintah menyejahterakan masyarakat.
Sementara itu, menurut Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2003, pasal 66, APBD memiliki fungsi sebagai berikut:
1. Fungsi Otorisasi, bahwa APBD menjadi dasar bagi Pemerintah Daerah untuk melaksanakan pendapatan dan belanja pada tahun yang bersangkutan.
2. Fungsi Perencanaan, bahwa APBD menjadi pedoman bagi pemerintah daerah untuk merencanakan kegiatan pada tahun yang bersangkutan.
3. Fungsi Pengawasan, bahwa APBD menjadi pedoman untuk menilai (mengawasi) apakah kegiatan penyelenggaraan pemerintah daerah sudah sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan.
4. Fungsi Alokasi, bahwa APBD dalam pembagiannya harus diarahkan dengan tujuan untuk mengurangi pengangguran, pemborosan sumber daya, serta meningkatkan efisiensi dan efektivitas perekonomian.
5. Fungsi Distribusi, bahwa APBD dalam pendistribusiannya harus memerhatikan rasa keadilan dan kepatutan.
Sumber pendapatan APBD
Menurut undang-undang no. 33 tahun 2004, sumber pendapatan APBD terdiri dari:
1. Pendapatan asli daerah (PAD)
Pendapatan asli daerah adalah pendapatan asli yang diperoleh dari daerah tersebut, yang meliputi pajak daerah, retribusi daerah, hasil pengolahan kekayaan daerah yang dipisahkan, dan lain-lain PAD yang sah seperti pendapatan bunga, jasa giro, komisi, dan potongan.
 
2. Dana perimbangan
Dana perimbangan adalah pendapatan yang diperoleh daerah dari APBN, meliputi:
a. Dana bagi hasil, yaitu dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada daerah berdasarkan angka persentase tertentu dari pajak dan SDA (Sumber Daya Alam) untuk mendanai kebutuhan daerah.
b. Dana alokasi umum, yaitu dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada daerah dengan tujuan pemerataan kemampuan keuangan antar daerah.
c. Dana alokasi khusus, yaitu dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada daerah tertentu dengan tujuan untuk mendanai kegiatan khusus daerah yang sesuai dengan prioritas nasional.
3. Lain-lain pendapatan
Terdiri dari:
a. Hibah, merupakan bantuan yang tidak mengikat dari pihak lain.
b. Dana darurat, merupakan dana dari APBN yang diberikan kepada daerah untuk keperluan mendesak.


Sabtu, 27 September 2014

Satnight Kali ini

Diposting oleh Nazilatul Khikmah di 07.37 0 komentar Link ke posting ini
hai readers :) satnight nih, daripada bengong, mending ngepost sesuatu deh :D aku pengen ceritain semuanya tapi kan gak mungkin juga ya, gini2 juga sosial media namanya, siapapun bisa baca ini.
sekarang keadaan lagi ssusah, aku harus ekstra sabarr ngadepin ini semua..
gak masalah kalu hatersku nambah banya, prinsipku "aku harus bisa nylesein tugas2ku, dengan baik. aku pengen acara yang aku pegang berjalan dengan lancar" aku iri deh sama temenku mereka sekarang beda banget, mereka udah gede, tambah cantik, pinter.. sedangkan aku? masih cerumut, gak pinter-pinter juga -__- tapi gakpapa, ini aku yang membedakan aku dari yang lain. aku disini untuk belajar berdiri dengan tumpuan kaki, tanpa harus merepotkan orang lain.
sekarang aku punya keluarga baru, namanya "Bee Family" ^^ aku punya mereka, mereka yang gilanya gak ketulungan.. yang setiap anggotanya punya kelebihan dan kekurangan yang unik. hampir semua aku tau sifat-sifatnya mereka. ada yang mukanya tablo + suaranyaaa cetar, bayangin aja coba baru denger suaranya aja udah ngakak apalagi liatin mukany, gak kuat ngakak hahhah dia itu arnand partner aku.
ada juga yang suka ketawa-ketawa, tingkahnya juga lucu, tapi kalo udah marah gak ketulungan, sebenernya dia itu tegas, baik, enak lah diajak becanda, itu yuniar namanya
dan masih banyak lagi sebenarnya tapi males ngetik hahhah :p maaf yaa buat yang lain yang belum disebutin akunya udah ngantu hehhe :D

Rabu, 23 Juli 2014

Ceritanya curhat gitu

Diposting oleh Nazilatul Khikmah di 08.25 1 komentar Link ke posting ini
entah sampe kapan gue stalking timeline lo. jujur kadang gue nyesek, bete kalo tiap buka twitter harus ngestalk TL lo. tapi susah buat gue brenti jadi stalker lo, walaupun itu cuma sehari. SUSAH!
pernah gue berharap lo stalking timeline gue.. tapi itu gak mungkin. karna lo udah milik orang lain. lo pasti cinta banget kan sama pacar lo sekarang. gue tauu.. kenapa sampe gue tau? karna gue Stalker Sejati lo. yang entah sampe kapan akan stalking timeline lo.
ya gue sih cuma berpesan, semoga lo sama pacar lo longlast, semoga bagus nilai UN-nya, bisa jadi kapten yang baik, bisa bangain ortu. gue tau lo itu hebat.. berkarisma. jujur gue suka sama kamu sejak ukk kemaren. 
lo dateng dan pergi, ninggalin jejak di hati gue. lo tau susahnya ngehapus jejak ini, jejak yang udah terlanjur dalam. mungkin percuma gue nulis kaya gini, tapi seengganya gue udah ngungkapin yang sebenarnya walu gak secara langsung. gue pengen banget liat senyum lo kak. minimal sekali dalam sehari

Kamis, 19 Juni 2014

Sulit bagiku tuk lupakan sosokmu

Diposting oleh Nazilatul Khikmah di 07.34 0 komentar Link ke posting ini
aku tau aku harus bisa melupakan sosokmu, yang mampu membuatku tersenyum.. yang mampu membuatku salah tingkah. namun, melupakanmu tidak semudah membalikan telapak tangan. sulit bagiku tuk hapus memori tentang dirimu. kau hadir.. dan kemudian pergi lagi. entah akan berapa lama kau pergi. haruskah kumenunggu kau kembali? apakah ku harus merelakan dirimu? entahlah.. aku bingung.
sesungguhnya aku tau, aku tak pantas bersamamu, mengharapkanmu. namun sulit bagiku tuk lupakan semua tentangmu. kau datang dan pergi tanpa izin, seakan akan aku ini terminal, yang mudah kau singgahi dan kemudian pergi lagi. aku punya hati dan fikiran. tahukah kamu? aku sangat merindukanmu. senyummu.. tawamu, aku rindu semua tentangmu.
namun aku harus mampu merelakanmu. karna ini bukan waktu yang baik untuk mekirkan hal seperti ini. aku pergi. selamat tinggal~
aku berharap kau kembali, dengan membawa kepastian, bukan harapan palsu.
aku percaya jika suatu saat nanti kita pasti bertemu. dengan keadaan yang berbeda. semoga. amin.

Jumat, 23 Mei 2014

contoh makalah penelitian_soiologi

Diposting oleh Nazilatul Khikmah di 22.47 0 komentar Link ke posting ini
BAB I
PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang Masalah
Pada dasarnya banyak sekali perilaku menyimpang terjadi di sekitar kita, apalagi di masyarakat dan lingkungannya, sampai mengakibatkan sebuah atau banyak masalah karena penyimpangan yang mereka buat. Banyak sekali kejadian-kejadian penyimpangan social yang sering kita lihat.
Beberapa contoh penyimpangan sosisal yang terjadi di masyarakat yaitu perampokan, pencurian, tawuran, pelecehan seksual dan dan banyak lagi yang sering kita dengar di media lain
Penyimpangan yang terjadi ketika di teliti juga pasti bermacam-macam penyebebnya, entah itu masuk akal maupun hanya di buat-buat. Diamati sekali tahun demi tahun banyak sekali penyimpangan sosial baru yang terjadi di masyarakat, lingkungan keluarga, lingkungan bermain, bahkan di sekolah-sekolah menengah atas, di beberapa kota juga sering diberitakan adanya penyimpangan sosial
Seperti halnya sekolah menengah atas lainnya, di SMA N 3 TEGAL juga banyak sekali siswa-siswi yang melakukan tindakan-tindakan yang menyimpang, mungkin saja itu terjadi karena linkungan di luar sekolah yang kurang baik
Banyak sekali siswa yang membolos, terlambat datang ke sekolah, merokok diam-diam di kamar mandi pada saat jam istirahat maupun jam pelajaran berlangsung, berkelahi dengan teman sepermainan entah itu dilakukan di dalam sekolah maupun di luar sekolah, berpakaian tidak rapih, rambut berantakan dan lainnya. Bagi beberapa siswa mungkin menganggap sekolah hanya sebagai tittle. Itu semua merupakan beberapa contoh penyimpangan yang terjadi di SMAN 3 TEGAL.

B.      Identifikasi Masalah
1.      Di masyarakat banyak sekali penyimpangan sosial yang terjadi
2.      Di SMAN 3 TEGAL juga banyak sekali siswa yang melanggar peraturan
3.      Masih banyak sekali siswa yang membolos, dating terlambat, bergaul bebas, dan merokok di lingkungan sekolah
4.      Banyak juga yang akhirnya mengakibatkan suatu masalah untuk merekabaik di dalam maupun diluar sekolah





C.      Rumusan Masalah
1.      Apa bentuk perilaku menyimpang siswa SMAN 3 TEGAL di lingkungan sekolah ?
2.      Apa faktor yang menyebkan terjadinya perilaku menyimpang ?

D.      Tujuan Penelitian
1.      Mengetahui bentuk perilaku menyimpang di SMAN 3 TEGAL
2.      Mengetahui faktor penyebab terjadinya perilaku menyimpang yang di lakuakan oleh siswa-siswi di SMAN 3 TEGAL

E.      Manfaat Penelitian
1.      Manfaat bagi peneliti
-          Menambah wawasan
-          Melatih cara berfikir secara ilmiah
2.      Manfaat bagi sekolah
-          Sebagai bahan represi masukan untuk peraturan yang lebih baik





















BAB II
KAJIAN TEORI DAN KERANGKA KERJA PIKIR

A.     Kajian Teori
·         Pengertian Penyimpangan Sosial
Perilaku penyimpangan (deviasi sosial) sebagai suatu bentuk perilaku yang tidak sesuai, melanggar, atau menyimpang dari nilai-nilai dan norma-norma sosial yang ada dalam masyarakat. Sehingga perilaku menyimpang dapat terjadi di mana saja, baik di keluarga maupun di masyarakat. Dengan perkataan lain, penyimpangan sosial (deviasi sosial) adalah semua tindakan yang tidak berhasil menyesuaikan diri (comformity) terhadap kehendak masyarakat.

·         Teori-teori Penyimpangan Sosial
Teori Differential Association. Teori ini mengatakan bahwa penyimpangan sosial bersumber pada pergaulan yang berbeda dan terjadi melalui proses alih budaya.
Teori Labeling. Pandangan teori ini, seseorang melakukan perilaku menyimpang karena proses Labeling, pemberian julukan, cap, etiket dan merek yang diberikan masyarakat secara menyimpang sehingga menyebabkan seseorang melakukan penyimpangan sosial sesuai dengan label yang diberikan.
Teori Merton (R. Merton). Teori penyimpangan ini bersumber dari struktur sosial sehingga terjadinya perilaku menyimpang itu sebagai bentuk adaptasi terhadap situasi tertentu.
Teori Fungsi (Durkheim). Bahwa kesadaran moral semua anggota masyarakat tidak mungkin terjadi karena setiap orang berbeda satu sama lainnya tergantung faktor keturunan, lingkungan fisik dan lingkungan sosial. Menurut Durkheim kejahatan itu perlu, agar moralitas dan hukum itu berkembang secara formal.
Teori konflik (Karl Marx). Menurut teori ini mengatakan bahwa perilaku menyimpang hanya dalam pandangan kelas yang berkuasa untuk melindungi kepentingan mereka. Jadi, karena ada kelas atas yang selalu menindas kelas bawah akan menimbulkan pertentangan dan menjadikan tindakan menyimpang.




B.      Faktor-faktor penyimpangan sosial
Tidak dipungkiri bahwa setiap tindakan manusia ada sebabnya, atau sering dikatakan hokum sebab-akibat, begitu juga dengan perilaku menyimpang. Perilaku menyimpang disebabkan oleh beberapa faktor sebagai berikut:
·         Pertentangan antara norma kelompok dengan norma masyarakat
·         Tidak mempunyai seseorang sebagai panutan dalam memahami dan meresapi tata nilai atau norma-norma yang berlaku di masyarakat.
·         Pengaruh lingkungan kehidupan sosial yang tidak baik.
·         Pertentangan antar agen sosialisasi
·         Pengaruh fisik dan jiwa seseorang.
·         Proses bersosialisasi yang negatif.
·         Ketidakadilan.

C.      Bentuk-bentuk penyimpangan sosial
Penyimpangan dalam masyarakat sering terjadi dan memiliki bentuk-bentuk tersendiri seperti penyimpangan yang dilakukan oleh individu, kelompok, campuran. Penyimpangan tersebut ada yang bisa diterima, ada pula yang tidak diterima oleh masyarakat karena ada penyimpangan yang dianggap positif oleh masyarakat. lebih lanjut, berikut bentuk penyimpangan dalam masyarakat:
  • Berdasarkan kadar penyimpangan.
Menurut Lemert (1951), Penyimpangan dibagi menjadi dua bentuk:
1.      Penyimpangan Primer (Primary Deviation). Penyimpangan yang dilakukan seseorang akan tetapi si pelaku masih dapat diterima masyarakat. Ciri penyimpangan ini bersifat temporer atau sementara, tidak dilakukan secara berulang-ulang dan masih dapat ditolerir oleh masyarakat. Contohnya: menunggak iuran listrik, telepon, melanggar rambu-rambu lalu lintas dll.
2.      Penyimpangan Sekunder (secondary deviation) Penyimpangan yang berupa perbuatan yang dilakukan seseorang yang secara umum dikenal sebagai perilaku menyimpang. Pelaku didominasi oleh tindakan menyimpang tersebut, karena merupakan tindakan pengulangan dari penyimpangan sebelumnya. Penyimpangan ini tidak bisa ditolerir oleh masyarakat. Penyimpangan jenis ini sangat merugikan orang lain, sehingga pelakunya dapat dikenai sanksi hukum atau pidana. Contohnya: pemabuk, pengguna obat-obatan terlarang, pemerkosaan, pelacuran, pembunuhan, perampokan, perjudian.
  • Berdasarkan pelaku penyimpangan
1.      Penyimpangan individu (individual deviation). Penyimpangan jenis ini dilakukan secara perorangan tanpa campur tangan orang lain dan berupa pelanggaran terhadap norma-norma suatu kebudayaan yang telah mapan. contohnya: tidak patuh pada perintah orang tua (Pembandel), tidak taat pada orang berwenang seperti RW atau guru (pembangkang), menerobos lampu merah (pelanggar), pencopet di pasar (perusuh atau penjahat).
2.      Penyimpangan kelompok (individual deviation). Penyimpangan yang dilakukan secara bersama-sama atau secara berkelompok dengan melanggar norma-norma yang berlaku dalam masyarakat. Penyimpangan yang dilakukan kelompok, umumnya sebagai akibat pengaruh pergaulan/teman. penyimpangan kelompok biasanya lebih sulit dikendalikan karena mereka patuh pada aturan kelompoknya dan fanatik sehingga lebih berbahaya dari penyimpangan individu. contohnya: tawuran pelajar, kenakalan remaja, penyimpangan kebudayaan, pemberontakan, perkelahian antar suku, agama, dan antar geng.
3.      Penyimpangan campuran (mixture of both deviation) Penyimpangan ini diawali oleh individu, selanjutnya memengaruhi orang lain agar ikut dalam penyimpangan. Dalam hal ini, orang yang terpengaruh akan mengikuti jejak para propokatornya. contohnya: demonstrasi damai berubah menjadi anarkis ketika salah satu demonstran melakukan penyimpangan, pemalsuan uang, dan pengedaran narkoba.

  • Berdasarkan sifat penyimpangan
1.      Penyimpangan positif. Penyimpangan atau perilaku yang melanggar atau tidak sesuai dengan nilai dan norma dalam masyarakat, tetapi memiliki dampak positif bagi dirinya atau masyarakat karena memberikan unsur kreatif dan inovatif. contohnya: dahulu istri (perempuan) tidak boleh kerja di luar atau mengerjakan pekerjaan lelaki seperti jadi sopir taksi, akan tetapi karena suami (laki-laki) tidak mampu lagi bekerja sehingga istri lah yang bekerja.
2.      Penyimpangan negatif. Penyimpangan ini bersifat negatif karena tindakannya cenderung merugikan dirinya, masyarakat, menghancurkan barang atau benda, bahkan menimbulkan korban. contohnya: korupsi, pencurian, demonstrasi anarkis, dan pembunuhan.

D.     Beberapa penyimpangan sosial dalam masyarakat
Nilai dan norma dibuat masyarakat untuk mengatur kehidupannya yang tertib dan tentram. Tapi tak jarang nilai dan norma tersebut dilanggar seseorang dan ini lah yang dinamakan tindakan menyimpang atau penyimpangan sosial. Dalam masyarakat terdapat beberapa pelanggaran terhadap nilai dan norma yaitu sebagai berikut:
1.      Penyalahgunaan narkotika a) Heroin b) Ganja c) Ekstasi d) Shabu-shabu
2.      Kenakalan remaja a) Bolos sekolah b) Tawuran c) Ugal-ugalan di jalan raya
3.      Minuman keras (alkoholisme)
4.      Pelacuran
5.      Penyimpangan seksual a) Lesbian dan homoseksual b) Sodomi c) Perzinahan (sek diluar nikah) d) Kumpul kebo
6.      Tindakan kejahatan a) Pembunuhan b) Pencurian c) Perampokan d) Pemerkosaan
7.      Gaya hidup a) Sikap arogansi b) Sikap eksentrik (sikap yang aneh dari lainnya seperti anak funk)
E.       Dampak Penyimpangan Sosial
Setelah dilakukan perilaku menyimpang akan bedampak pada pelaku penyimpangan dan juga bagi masyarakat sekitarnya. Berikut dampak dari penyimpangan sosial:
·         Dampak terhadap diri sendiri
1.      Dikucilkan masyarakat atau mencelakakan dirinya sendiri
2.      Terganggunya perkembangan jiwa
3.      Dapat mengahncurkan masa depan
4.      Dapat menjauhkan diri pada tuhan
·         Dampak terhadap masyarakat
1.      Terganggunya keseimbangan sosial
2.      Pudarnya nilai dan norma
3.      Merusak unsur-unsur budaya
4.      Kriminalitas

·         Dampak positif
1.      Menumbuhkan kesatuan masyarakat
2.      Memperkokoh nilai-nilai dan norma dalam masyarakat
3.      Memperjelas batas moral
4.      Mendorong terjadinya perubahan sosial
F.       Upaya Pencegahan dan Mengatasi Penyimpangan social

Banyak upaya yang mampu mencegah, mengantisivasi, dan mengatasi penyimpangan sosial dalam masyarakat. Berikut ini upaya pencegahan dan mengatasi penyimpangan sosial:
·         Penanaman nilai dan norma terhadap anak
·         Penanaman nilai-nilai ketuhanan
·         Pelaksanaan peraturan tidak memihak dan tegas
·         Pembentukan kepribadian yang kuat
·         Melaksanakan penyuluhan-penyuluhan dan rehabilitasi
·         Mengembangkan kegiatan-kegiatan positif
·         Mengembangkan kerukunan antar warga masyarakat
























BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A.       Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian adalah tempat dilakukannya penelitian. Penelitian ini dilaksanakan di sekolah yaitu di SMA N 3 TEGAL.
B.        Waktu Penelitian
Waktu penelitian dilakukan pada:
-    Februari sampai maret proses pembuatan rancangan penelitian .
-    Maret sampai April proses dilakukannya penelitian.
-    Mei proses pembuatan laporan penelitian.
C.        Bentuk Penelitian
-          Penelitian deskriptif yaitu penelitian yang melukiskan dan melaporkan suatu keadaan, objek atau peristiwa secara apa adanya berupa fakta
-          Penelitian Inferensial yaitu penelitian yang mampu menarik kesimpulan umum atas masalah yang sedang diteliti
D.       Sumber Data
-          Tempat, yaitu tempat di laksanakannya aktifitas penelitian
-          Aktifitas, kegiatan melakukan penelitian
-          Informan, objek tempat mememperoleh data
-          Dokumen, sumber data yang di peroleh dari subjek/objek lain

E.        Teknik Pengumpulan Data
-          Observasi dengan meneliti kegiatan penyimpangan yang terjadi di lingkungan sekolah.
-          Wawancara, dengan mewawancarai untuk mencari kesimpulan data yang diperoleh dari Guru BK dan Waka Kesiswaan.

F.         Teknik Cuplikan/Pengambilan Sampling
-          Simple random sampling (Sampling acak sederhana) : Pengambilan sampel dengan memberi kesempatan yang sama untuk dipilih bagi setiap individu dalam keseluruhan siswa.
-          Sampling Purposif (Puposive sampling) : Tekhnik penentuan untuk tujuan tertentu saja . Tekhnik ini dibutuhkan untuk mengurangi penyimpangan sosial di wilayah sekolah oleh bantuan Guru BK / Waka kesiswaan.

G.       Validitas Data
Data-data yang diperoleh dari lapangan perlu divalidkan, dalam penelitian ini, peneliti mengunakan teknik informant review atau umpan balik dari informan. Selain itu digunakan pula teknik triangulasi. Penggunaan teknik  triangulasi merupakan strategi untuk mengurangi bias sistematik dalam data. Masing-masing strategi melibatkan pengecekan temuan-temuan terhadap sumber lain. Sehingga triangulasi sebagai proses evaluasi dapat menjaga tuduhan bahwa temuan-temuan penelitian itu menggunakan alat sederhana baik metode, sumber, maupun bias penelitian.
Teknik triangulasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah triangulasi sumber, triangulasi metode, triangulasi teori.[1]Triangulasi sumber, yakni mengumpulkan data sejenis dari beberapa sumber data yang berbeda. Dalam hal ini, untuk memperoleh data tentang trilogi kepemimpinan  Tamansiswa, dikumpulkan dari hasil wawancara dengan kepala sekolah, pamong sosiologi, dan guru mata pelajaran yang lain. Triangulasi metode, yakni mengumpulkan data sejenis dengan menggunakan  teknik pengumpulan data yang berbeda yang dalam hal ini untuk mendapatkan data digunakan beberapa sumber dari hasil wawancara dan observasi. Triangulasi teori untuk menginterpretasikan data yang sejenis, misalnya pelaksanaan sistem among, implementasi trilogi kepemimpinan Ing ngarsa sung tulada, Ing madya mangun karsa, Tutwuri handayani dalam proses pembelajaran.

H. Teknik Analisis Data
Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis interaktif[2]. Dalam model analisis ini, tiga komponen analisanya yaitu reduksi data, sajian data dan penarikan kesimpulan atau verifikasi. Teknik analisis ini dapat dijelaskan sebagai berikut.
1.    Reduksi  Data
Reduksi data dapat diuraikan sebagai proses pemilihan, pemusatan perhatian pada penyederhanaan, pengabstrakan, dan transformasi data ”kasar” yang muncul di lapangan. Dalam pengumpulan data model ini, peneliti selalu membuat reduksi data dan sajian data sampai penyusunan kesimpulan. Artinya data yang didapat di lapangan kemudian disusun pemahaman arti di  segala peristiwa yang disebut reduksi data. Reduksi data dan sajian data ini disusun pada saat peneliti mendapatkan unit data yang diperlukan dalam penelitian. Dengan demikian reduksi data merupakan suatu bentuk analisis yang menajamkan, menggolongkan, mengarahkan, membuang yang tidak perlu, dan mengorganisasi sehingga kesimpulan data finalnya dapat ditarik dan diverifikasi.
2.    Penyajian Data
Penyajian data merupakan alur penting yang kedua dari analisis interaktif. Suatu penyajian, merupakan kumpulan informasi tersusun yang memberikan kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan. Penyajian data dilakukan setelah data telah mengalami proses reduksi data dan diikuti penyusunan data yang berupa cerita yang sistematis. Data yang sudah tersusun secara sistematis, data siap untuk disajikan dan ditarik kesimpulan sebagai hasil dari proses penelitian.
3.    Verifikasi/Penarikan Kesimpulan
Analisis yang ketiga yang penting adalah menarik kesimpulan atau verifikasi. Pengumpulan data terakhir peneliti mulai melakukan usaha menarik kesimpulan dengan menarik verifikasi berdasarkan reduksi data dan sajian data. Kesimpilan yang diambil penelitian harus memberikan kesimpulan secara longgar, terbuka dan skeptis[3]. Jika permasalahan yang diteliti belum terjawab dan atau belum lengkap, maka peneliti harus melengkapi kekurangan tersebut di lapangan terlebih dahulu.
Reduksi data, penyajian data sampai penyajian data aktivitasnya dilakukan dalam bentuk interaktif dengan proses pengumpulan data sebagai suatu proses yang berlanjut, berulang dan terus menerus hingga membentuk sebuah siklus. Dalam proses ini aktivitas peneliti bergerak di
Pengumpulan  Data
Sajian Data
Reduksi Data
Verifikasi/
Penarikan Kesimpulan
antara komponen analisis dengan pengumpulan data selama proses ini masih berlangsung. Selanjutnya peneliti hanya bergerak di antara tiga komponen analisis tersebut. Secara skematis proses analisis interaktif ini dapat digambarkan sebagai berikut.


                                                                                       


Gambar 1. Model Analisis Milles dan Hubberman


Hari/Tanggal


Nilai
Paraf Guru
Komentar balikan






 


³Patton, Michael Quinn, Qualitative Evaluation Methods. London. Sage, 1983, hlm. 24
17Miles. N.B. and Hubermen. Qualitative Data Analisis; A Saurcebook of New Method. Beverly Hills CA Sage Publication, 1984, hlm. 23.





BAB IV­­­­
PEMBAHASAN DAN ANALISIS


A.      PEMBAHASAN
1.       Profil Sekolah
Visi       : membentuk generasi penerus bangsa yang disiplin, terampil, beriman dan bertakwa
Misi        :              
1.    Menumbuhkan kedisplinan segenap warga sekolah, baik siswa, guru, karyawan, dan pemimpin sekolah
2.    Mengembangkan pelajaran bebasis TIK dan menerapkan keunggulan lokal sehingga setiap siswa dapat berkembang secara optimal sesuai dengan potensi yang dimiliki
3.    Mengembangkan kegiatan ekstrakulikuler untuk memberi bekal ketrampilan dan pembentukan watak pribadi yang mandira dan bermutu
4.    Menumbuhkan suasana sekolah yang religius dengan cara menempatkan nilai-nilai agama sebagai sumber kearifan dalam bertindak
5.    Mengembangkan lingkungan sekolah yang bersih, aman, trtib, dan asri

2.       Penguraian Penyimpangan
·      Penjelasan Sederhana
Perilaku menyimpang terjadi karena berlangsungnya proses sosialisasi yang tidak      Sempurna  dan adanya subkebudayaan penyimpangan sosial. Kedua sebab tersebut bisa dijelaskan secara singkat sebagai berikut.
1.   Berklangsungnya proses sosialisasi yang tidak sempurna. Artinya apa yang diajarkan dalam keluarga dan sekolah berbeda dengan apa yang dilihat dan dialami seseorang dalam kehidupan nyata jujur, namun dalam masyarakat ternyata begitu banyak orang berbuat tidak jujur.
2.   Adanya subkebudayaan penyimpanhan sosial. Artinya, seseorang tumbuh dan berkembang dalam lingkungan budaya yang diwarnai oleh subbudaya penyimpangan sosial. Misalnya, seorang anak yang tumbuh dan berkembang dalam lingkungan keluarga/masyarakat preman , potensial melakukan tindakan – tindakan premanisme.
·      Penjelasan Berdasarkan Teori – teori tentang Gejala Perilaku Menyimpang
Teori Biologis
Teori ini pertama kali dikemukakan pada tahun 1876 oleh caesare Lombroso (1835 – 1909). Ia adalah seorang dokter berkebangsaan italia yang berbagai penjara. Lombroso menyatakan, bahwa pelaku kejahatan pada umumnya memiliki ciri – ciri fisik yang berbeda bila dibandingkan dengan orang kebanyakan.
Menurut Lombroso, poara poelaku kejahatan umumnya memiliki cirri fisik : raut muka murung /sedih, rahang dan tulang pipi menonjol, daun telinga menonjol keluar, bulu – bulu yang berlebihan, dan jari – jari yang luar biasa  bisa panjang, sehingga membuat mereka menyerupai nenek moyang manusia (kera). Namun, menurut Charles Buckman Goring , ada kelamahan dalam pendapat Lombroso, yaitu hanya didasarkan pada penelitian dengan sampel yang sangat terbatas.
Lebih lanjut, menurut William Sheldon struktur tubuh berpredeksi  kriminalitas. Ia telah meneliti ratusan oranh berdasarkan tipe tubuh dan penelusuran sejarah kriminalitasnya. Berdasarkan penilitian itu dapat disimpulkan bahwa perilaku menyimpang umumnya terjadi pada orang yang  berotot dan memiliki tubuh atletis.
Kesimpulan tersebut dikuatkan oleh penelitian Sheldon Glueck dan  Eleanor Glueck. Tetapi mereka mengingatkan bahwa tubuh yang kekaritu umumnya merupakan akibat perlakuan/latihan dari orang tua dengan cara yang sangat rendah kerpada orang lain dan memiliki perilaku agresif.
Berbagai penelitian genetis dan sosiobiologi mutakhir terus mencoba mencari kaitan yang masuk akal antara kondisi biologis dan kejahatan. Namun, belum ada temuan yang rinci dan meyakinkan, yang mermbuktikan kaitan antara kondisi biologis dan kejahatan. Hanya, dapat disimpulkan bahwa faktor – faktor biologis bisa menyebabkan orang melakukan tindakan kejahatan.
Teori labeling
Menurut Howard S. Becker tindakan perilaku menyimpang  sesungguhnya tidak ada. Setiap tindakan sebenarnya bersifat “netral” dan “relative”. Artinya, makna tindakan itu relatif tergantung pada sudut pandang orang yang menilainya. Sebuah tindakan disebut perilaku menyimpang karena orang lain/masytarakat memaknai dan menamainya (labeling) sebagai perilaku menyimpang. Jika orang/ masyarakat tidak menyebut sebuah tindakan sebagai perilaku menyimpang, maka perilaku menyimpang itu tidak ada. Penyebutan sebuah tindakan parilaku menyimpang sangat bergantung pada proses deteksi, definisi, dan tanggapan  seseorang terhadap sebuah tindakan.
Sebagai contoh, sekolompok masyarakat disebuah desa difilipina melakukan tindakan sabung ayam sebagian penduduk Filipina tindakan itu ternyata merupakan ritual penting untuk menghayati kehidupan yang jujur. Jadi, proses deteksi, definisi, dan tanggapan seseorang terhadap tindakan sabung ayam akan sangat menentukan penamaan (labeling) tindakan itu, apakah tindakan itu akan disebut perilaku menyimpang ataukah kegiatan ritual.
Bagi Erving Goffman, perilaku menyimpang terjadi karena adanya stigma. Adalah penamaan yang sangat negatif kepada seseorang /kelompok sehingga mampu mengubah secara radikal konsep diri dan identitas social mereka. Adanya stigma akan membuat seseorang atau sebuah kelompok negatif dan diabaikan, sehingga mereka disisihkan secara sosial.
Lebih lanjut, menurut Harold Garfinkel ada kalanya masyarakat secara formal melakukan stigmatisasi melalui tata cara penghinaan (dengan – dation ceremony) .Stigmatisasi ini menjadi orang sakit secara mental (mental illness). Akibat selanjutnya, mereka terus menerus melakukan perilaku menyimpang.
Contoh, stigmatisasi yang pada umumnya dilakukan oleh masyrakat terhadap mantan nara pidana. Masyarakat umumnya menganggap mereka tak bisa menjadi orang baik – baik. Karena itu, umumnya mereka padahal, demikian menurut Thomas Szasz,sesungguhnya para nara pidana itu tidak mengalami sakit mental kalau mereka tidak dikenai stigmatisasi. Sebab, pada dasarnya sakit mental hanyalah sebuah mitos. Tetapi, stigmatisasi telah membuat mereka percaya pada mitos itu. Maka, disini berlaku dalil Thomas szasz, yang menyatakan:” situasi yang dianggap nyata akan benar- benar menjadi nyata” (situations defined as real become real in their consequences).
Teori sosialisasi
Pandangan dasar teori ini adalah bahwa penyimpangan sosial merupakan produk dari proses sosialisasi yang kurang sempurna atau gagal
Menurut Alberet Bandura dan Richard H.Walters misalnya, Anak-anak belajar prilaku menyimpang dengan mengamati dan meniru orang lain yang memiliki prilaku menyimpang. Khusus nya,mereka mengamati dan meniru orang yang dekat dengannya.
Selanjutnya, menurut Deborah M. Capaldi dan Gerald M.peterson, Anak-anak yang agresif umumnya berasal dari keluarga yang orang tuanya terlalu keras atau agresif. Akibatnya, anak kehilangan teladan pngendalian diri dan mungkin menanggapi hukuman dengan meningkatkan agresif. Intinya, perilaku menyimpang di hasilkan oleh proses sosialisasi yang sama dengan perilaku itu.
Sementara itu, menurut Mark S. Gaylord dan john F. galliher serta Edwin Sutherland, orang yang memiliki perilaku menyimpang cenderung  memiliki ikatan dengan orang lain yang memiliki perilaku menyimpang, dimana orang tersebut  mengokohkan Norma-norma dan nilai –nilai yang menyimpang. Perinsipnya, setiap kelompok sosial akan mewariskan nilai-nilai dan Norma-norma kelompoknya kepada anggota –anggota baru.
Kaum mudah pada umumnya sangat terbuka terhadap norma, perilaku, Dan Nilai-nilai yang berasal dari subkultur berbeda, termasuk subkultur perilku menyimpang. Karna itu,menurut Ronald R.Akers  perilaku Teman –teman dekat merupakan sarana yang paling baik untuk memprediksi apakah perilaku seorang anak mudah sesuai dengan norma yang berlaku ataukah perilaku menyimpang
Teori keterangan
Teori ketegangan  ( strain theory) dikemukakan oleh Robert K.Merton. Ia menyatakan bahwa perilaku menyimpang ditentukan oleh seberapa baik sebuah masyarakat mampu menciptakan keselarasan antara aspirasi warga masyarakat (missal, pekerjaan). Jika tidak keselarasan antara anspirasi-anspirasi warga masyarakat dengan ncara-cara legal yang ada, maka akan lahir perilaku menyimpang.
Jadi, perilaku menyimpang merupakan akibat dari adanya ketegangan antara anspirasi apa yang dianggap bernilai oleh warga masyarakat dan cara pencapaian anspirasi yang dianggap sah oleh masyarakat.
Terkait dengan perilaku menyimpang, merton memetakan adanya lima kemungkinan sikap seorang terhadap norma yang ada. Kelima kemungkinan sikap itu adalah : Konformitas (conformity),  inovasi (innovation),ritualisme (ritualism),retreatisme (rewtreatism), dan pemberontakan (rebellion).
Konformitas adalah kesediaan seseorang untuk menyesiaikan diri dengan norma yang ada dalam mewujudkan anspirasi/apa yang dianggap bernilai oleh masyarakat. Contoh, masyarakat menganggap bahwa kesuksesan hidup dicapai melalui kesuksesan materi. Karena itu, seorang yang ingin sukses berusaha mencapai kekayaan materi dengan bekerja keras mengoptimalkan semua potensi yang dimilikinya.
Namun, tidak semua orang memiliki talenta memadai untuk mencapai hidup sukses. Seseorang yang dilahirkan dalam keluarga yang sangat miskin misalnya, merasa tidak mungkin meraih sukses dengan mengikuti norma yang ada. Karena itu, ia mungkin akan berusaha meraih kesuksesan hidup dengan menempuh perilaku menyimpang, misalnya menjadi pengedar narkoba. Merton menyebut hal ini sebagai inovasi, yaitu upaya untuk mewujudkan aspirasi/apa yang dianggap bernilai dengan cara-cara tidak biasa /non –konvensional.
Sementara itu, ada pula warga masyarakat yang merasa memiliki hambatan untuk meraih kesuksesan hidup dengan cara yang sesuai dengan norma yang ada. Namun, ia tak bersedia untuk melanggar norma demi mewujudkan aspirasinya.Ia bersedia mengorbankan aspirasinya demi ketaatan kepada norma yang ada. Warga yang demikian, oleh Merton disebut bersikap litualisme.Menurut merton, hal ini sering terjadi dikalangan birokrat rendahan.
Disisi lain adapula warga masyarakat yang merasa memiliki hambatan untuk meraih kesuksesan hidup dengan cara yang sesuai dengan norma yang ada. Ia juga tak bersedia untuk melanggar norma demi mewujudka aspirasinya. Namun, ia bersikap menolak aspirasi/apa yang dianggap bernilai  norma yang ada dengan “menarik diri” dari masyarakat dengan berperilaku apatis terhadap keadaan atau melarikan diri dalam kebiasaan mengkonsumsi minuman  keras dan perilaku menyimpang lainnya. Warga yang bersikap demikian, oleh Merton disebut retreatisme.
Bentuk perilaku menyimpang yang keempat disebut pemberontakan. Seperti retreatisme ,pemberontakan menolak pandangan masyarakat mengenai apa yang dianggap bernilai dan juga norma-norma yang berlaku untuk mewujudkannya. Namun, Ia bukannya menarik diri dari masyarakat dan budaya  yang berlaku, melainkan berusaha secara radikal untuk  menggantikan nilai dan norma yang ada dengan nilai dan norma yang sama sekali baru. Pemberontakan politik atau keagamaan  umumnya termasuk kategori ini.
Teori Diforganisasi Sosial
Komsep tentang disorganisasi sosial di dasarkan pada karya  wilyam  l. Thomas dan florian znaneicki  serta karya Clifford Shaw dan henry McKay. Istilah di sorganisasikan sosail mengacu pada penjelasan mengenai perilaku menyimpang dan kondisi masyarakat yang menyebabkannya.
Menurut teori ini perilaku menyimpang merupakan produk dari perkembangan masyarakat yang tak seimbang. Di dalam terjadi perubahan dan konflik yang berdampak pada prilaku masrayakat.
Teori ini menekankan bahwa masyarakat teorganisasi bila anggota masyarakat membangun kesepakatan mengenai nilai dan norma funda mental sebangai dasar tindakan bersama. Organisasi sosial atau sosial terwujud ketika ada ikatan yang kuat di antara Indifudu-indufidu. Dan lembaga-lembaga dalam masyarakat. Ikatan ini  mengikuti ke sepakatan luas mengenai tujuan yang di hargai dan di perjuangkan . Dengan demikian, di sorganisasi sosial adalah kekacauan sosial .
Teori di sorganisasi sosial percaya , bahwa di sorganisasi sosial terjadi di sebagian besar kehidupan kota. Masyarakat kota di jadikan laboratorium studi mengenai prilaku menyimpang dan kejahatan penganut teori ini memusat penelitian pada di sorganisasi di wilaya lokal, Tempat-tempat kumuh atau pusat kota yang banyak terjadi kejahatan trostitusi, Bunih diri, dan berbangai bentuk, prilaku menyimpang lainnya.
Dalam pandangan teori ini , pola lingkungan kehidupan kota melahirkan disorganisasi sosial, yang mengakibatkan terjadinya prilaku menyimpang dan kejahatan.
Teori anomi
 Emile Durkheim,sosiolog dari prancis, memperkenalkan pada anomi (anomie) dalam karyanya yang terkenal The tahun 1893. Ia menggunakan konsep anomi untuk mendeskripsikan kondisi tanpa norma yang terjadi dalam masyarakat. Anomi berarti runtuhnya norma mengenai bagaimana masyarakat seharusnya bersikap terhadap yang lain. Masyarakat tidak tahu lagi apa yang bisa diharapkan dari orang lain. Kondsi itu, menurut Durkheim, akan melahirkan perilaku menyimpang.
Pada tahun 1897, Durkheim menggunakan kembali istilah anomi dalam penelitiannya mengenai bunuh diri (suicide) , yang mengacu pada kondisi tanpa norma moral. Disini Durkheim tertarik dengan dampak
Teori Konflik
Menurut teori ini, perilaku menyimpang merupakan akibat dari ketidaksamaan dalam masyarakat. Teori ini menekankan bahwa seseorang atau perbuatan yang disebut perilaku menyimpang tergantung pada kekuasaan relative dari kelompok masyarakat.
Alexander Liazos (1972) mencatat bahwa konsep umum mengenai perilaku menyimpang misalnya orang gila, pelacur, gelandangan menunjuk pada masyarakat yang tidak memiliki kekuasaan. Mereka diberi stigma sebagai pelaku perilaku menyimpang.
Menurut teori konflik, gejala perilaku menyimpang terkait dengan praktik kekuasaan yang tidak adil. Hal itu tampak dalam ketiga hal berikut.
ü  Norma-norma khususnya norma hukum dari setiap masyarakat pada umumnya menguntungkan mereka yang kaya dan berkuasa.Karl Marx mengatakan bahwa hukum (bersama dengan lembaga sosial yang lain) cenderung mendukung kepentingan kaum kaya. Senada dengan Marx, Richard Quinney menyatakan bahwa keadilan kapitalis dilakukan oleh kelas kapitalis, untuk melawan kelas buruh.
ü  Jika perilaku kaum kaya dan berkuasa dipersoalkan, mereka memiliki berbagai sarana untuk menolak sebutan sebagai pelaku perilaku menyimpang. Berbagai kasus hukum di Indonesia dengan sangat jelas menunjukkan hal ini. Seorang tukang becak yang baru pertama kali mencuri uang Rp. 5.000,00 akan segera dipukuli massa dan dianggap sebagai pencuri. Sementara itu pelaku korupsi milyaran bisa melenggang dengan gembira.
ü  Norma-norma dan hukum merupakan topeng yang sangat baik untuk menutupi berbagai perilaku curang kaum kaya dan berkuasa. Banyak orang mengutuk penerapan hokum yang sering tidak sama. Namun, mereka tidak memperhatikan bahwa sesungguhnya aturan hukum itu sendiri tidak adil. Karena itu, aturan hukum sering kali merupakan topeng bagi kejahatan yang dilakukan oleh mereka yang kaya dan berkuasa.


B.       ANALISIS
1.  Faktor yang menyebabkan Perilaku Menyimpang
·           Perbedaan status (kesenjangan) sosial antara si kaya dan si miskin yang sangat mencolok mengakibatkan timbulnya rasa iri dan dengki sehingga terjadilah pencurian dan saling ejek.
·           Ketidaksanggupan menyerap norma-norma kebudayaan. Karena ketidaksanggupan menyerap norma-norma kebudayaan kedalam kepribadiannya maka seorang individu tidak mampu membedakan perilaku yang pantas dan perilaku yang tidak pantas bagi masyarakat di sekitarnya.
·           Sikap mental yang tidak sehat membuat orang tidak pernah merasa bersalah atau menyesali perilakunya yang dianggap menyimpang.
·           Kriminolog Italia Cesare Lombroso berpendapat bahwa orang jahat dicirikan dengan ukuran rahang dan tulang-tulang pipi panjang, kelainan pada mata yang khas, tangan-tangan, jari-jari kaki serta tangan relatif besar, dan susunan gigi yang abnormal.
·           Proses belajar yang menyimpang. Seseorang yang melakukan tindakan menyimpang karena seringnya membaca atau melihat tayangan tentang perilaku menyimpang. Hal itu dapat membuat seseorang ingin meniru tokoh yang ada di tayangan tersebut walaupun itu adalah termasuk perilaku menyimpang.
·           Penyimpangan karena hasil proses sosialisasi subkebudayaan menyimpang. Subkebudayaan adalah suatu kebudayaan khusus yang normanya bertentangan dengan norma-norma budaya yang dominan. Unsur budaya menyimpang meliputi perilaku dan nilai-nilai yang dimiliki oleh anggota-anggota kelompok yang bertentangan dengan tata tertib masyarakat.
·           Lingkungan pergaulan sangat mempengaruhi perkembangan sikap dan perilaku seseorang. Biasanya orang akan mengikuti dan beradaptasi dengan lingkungan pergaulannya walaupun itu sudah termasuk perilaku menyimpang.
·           Ketegangan antara kebudayaan dan struktur sosial. Terjadinya ketegangan antara kebudayaan dan struktur sosial dapat mengakibatkan perilaku yang menyimpang. Hal itu terjadi jika dalam upaya mencapai suatu tujuan seseorang tidak memperoleh peluang, sehingga ia mengupayakan peluang itu sendiri, maka terjadilah perilaku menyimpang.
·           Banyaknya pemuda yang putus sekolah menyebabkan hilangnya kesempatan untuk mencari kerja. Akibatnya mereka harus menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang walaupun itu termasuk perilaku menyimpang seperti mengemis atau mencuri.
·           Ikatan sosial yang berlainan. Setiap orang biasanya berhubungan dengan beberapa kelompok yang berbeda. Hubungan dengan kelompok-kelompok tersebut akan cenderung membuatnya mengidentifikasi diri dengan kelompokyang paling dihargainya. Dalam hubungan ini individu akan memperoleh pola-pola sikap dari perilaku kelopoknya. Jika perlaku kelompok tersebut menyimpang maka kemungkinan besar ia juga akan menunjukkan pola-pola perilaku menyimpang.
·           Ketidakharmonisan keluarga memicu stres terutama pada anak remaja. Mereka menjadi semakin labil karena tidak mendapat perhatian dari orangtuanya.
·           Mencari perhatian juga menjadi sebab terjadinya perilaku menyimpang. Kemungkinan itu disebabkan oleh kurangnya perhatian dari orangtua dan gurunya sehingga dia selalu berusaha untuk mendapatkan perhatian dari orang lain walaupun itu menyimpang.
·           Dorongan ekonomi biasanya menjadi faktor utama untuk melakukan suatu perilaku menyimpang. Contoh adalah seperti orang yang mencuri karena terdesak dengan kebutuhan pokoknya yang tidak terpenuhi.
·           Kegagalan dalam proses sosialisasi. Keluarga inti maupun keluarga luas bertanggung jawab terhadap penanaman nilai dan norma pada anak. Kegagalan proses pendidikan dalam keluarga menyebabkan terjadinya penyimpangan.
·           Labelling. Faktor pelabelan pertama kali di ungkapkan oleh Edwin M. Lemert dalam teori pelabelan. Menurutnya seseorang melakukan perilaku menyimpang diberi cap (label negatif) oleh masyarakat.

2.  bentuk perilaku menyimpang siswa SMAN 3 TEGAL di lingkungan sekolah ?

Di pagi hari ketika bel masuk sudah berbunyi, hampir setiap hari masih banyak siswa yang belum sampai di sekolah, dengan kata lain banyak siswa yang terlambat. Sehingga tempat parkiran terlihat berantakan karena siswa yang terlambat tersebut meletakkan kendaraanya dari arah berlawanan jadi siswa tersebut hanya sembarangan meletakkan.
Ketika KBM berlangsung, banyak siswa yang berkeliaran terutama pada saat jam pelajaran kosong. Adapula siswa yang tanpa sepengetahuan guru menggunakan ponsel, dan menyalahgunakan laptop untuk membuka situs yang kurang penting. Hal ini menyebabkan banyak siswa yang tidak mengerjakan tugas karena siswa tersebut tidak memperhatikan penjelasan yang disampaikan oleh guru. Pada saat jam pelajaran terakhir adalah jam kosong, siswa berkeliaran pulang sebelum bel pulang berbunyi.
Saat upacara berlangsung, beberapa siswa atau peserta upacara tidak hidmat dalam mengikuti upacara bendera yang sedang berlangsung. Sehingga menyebabkan keributan saat pembina upacara berbicara. Adapula beberapa siswa yang terlihat tidak menggunakan atribut upacara lengkap, seperti dasi maupun topi.
Penyimpangan lain yang terjadi ada hubungannya dengan kedisiplinan. Misalnya, sebagian siswa laki-laki berpakaian kurang rapi dari mulai pakaian yang keluar, rambut yang memanjang dan sepatu yang berwarna selain hitam. Dan jika diperhatikan lebih banyak siswa yang lebih memilih berduduk duduk santai di kantin atau diteras kelas dibandingkan pergi membaca di perpustakaan. Dari mushola juga bisa dilihat, bahwa alat sholat terlihat kurang rapi atau berantakan dikarenakan banyak siswi yang tidak merapikan kembali mukenah yang telah digunakan.













BAB V
PENUTUP

A.      KESIMPULAN
Dari hasil pengamatan yang telah di lakukan, kami menyimpulkan bahwa hampir semua siswa di SMA Negeri 3 Tegal pernah melakukan penyimpangan baik yang bersifat sederhana maupun bersifat berlebihan atau keterlaluan. Dalam hal ini guru ikut berperan penting untuk membantu siswa mengendalikan penyimpangan yang terjadi di sekolah dengan memberikan bimbingan konseling maupun melaui bantuan bimbingan orang tua, sehingga dapat mengurangi gangguan serta dampak negatif yang suatu saat akan menimbukan dampak negatif  dan merugikan diri sendiri maupun orang lain.
B.      SARAN
Sangat diharapkan kepada siswa siswi SMA Negeri 3 Tegal untuk mematuhi peraturan yang berlaku, sehingga dapat mewujudkan lingkungan sekolah yang aman dan damai.
Saran selanjutnya diberikan kepada guru BK untuk lebih tegas lagi memberi hukuman terhadap siswa – siswi yang melanggar tata tertib sekolah. Dengan demikian siswa menjadu lebih segan terhadap peraturan sekolah.
Yang terakhir diberikan kepada pembaca, agar lebih meatuhi tata tertib yang ada, dan tidak segan-segan untuk menegur siswa/siswi yang melanggar tata tertib dan atau berperilaku kurang sopan.









[1]Moleong. op.cit. hlm. 330.




²Miles dan Huberman, 1984.
.


 BAB I
PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang Masalah
Pada dasarnya banyak sekali perilaku menyimpang terjadi di sekitar kita, apalagi di masyarakat dan lingkungannya, sampai mengakibatkan sebuah atau banyak masalah karena penyimpangan yang mereka buat. Banyak sekali kejadian-kejadian penyimpangan social yang sering kita lihat.
Beberapa contoh penyimpangan sosisal yang terjadi di masyarakat yaitu perampokan, pencurian, tawuran, pelecehan seksual dan dan banyak lagi yang sering kita dengar di media lain
Penyimpangan yang terjadi ketika di teliti juga pasti bermacam-macam penyebebnya, entah itu masuk akal maupun hanya di buat-buat. Diamati sekali tahun demi tahun banyak sekali penyimpangan sosial baru yang terjadi di masyarakat, lingkungan keluarga, lingkungan bermain, bahkan di sekolah-sekolah menengah atas, di beberapa kota juga sering diberitakan adanya penyimpangan sosial
Seperti halnya sekolah menengah atas lainnya, di SMA N 3 TEGAL juga banyak sekali siswa-siswi yang melakukan tindakan-tindakan yang menyimpang, mungkin saja itu terjadi karena linkungan di luar sekolah yang kurang baik
Banyak sekali siswa yang membolos, terlambat datang ke sekolah, merokok diam-diam di kamar mandi pada saat jam istirahat maupun jam pelajaran berlangsung, berkelahi dengan teman sepermainan entah itu dilakukan di dalam sekolah maupun di luar sekolah, berpakaian tidak rapih, rambut berantakan dan lainnya. Bagi beberapa siswa mungkin menganggap sekolah hanya sebagai tittle. Itu semua merupakan beberapa contoh penyimpangan yang terjadi di SMAN 3 TEGAL.

B.      Identifikasi Masalah
1.      Di masyarakat banyak sekali penyimpangan sosial yang terjadi
2.      Di SMAN 3 TEGAL juga banyak sekali siswa yang melanggar peraturan
3.      Masih banyak sekali siswa yang membolos, dating terlambat, bergaul bebas, dan merokok di lingkungan sekolah
4.      Banyak juga yang akhirnya mengakibatkan suatu masalah untuk merekabaik di dalam maupun diluar sekolah





C.      Rumusan Masalah
1.      Apa bentuk perilaku menyimpang siswa SMAN 3 TEGAL di lingkungan sekolah ?
2.      Apa faktor yang menyebkan terjadinya perilaku menyimpang ?

D.      Tujuan Penelitian
1.      Mengetahui bentuk perilaku menyimpang di SMAN 3 TEGAL
2.      Mengetahui faktor penyebab terjadinya perilaku menyimpang yang di lakuakan oleh siswa-siswi di SMAN 3 TEGAL

E.      Manfaat Penelitian
1.      Manfaat bagi peneliti
-          Menambah wawasan
-          Melatih cara berfikir secara ilmiah
2.      Manfaat bagi sekolah
-          Sebagai bahan represi masukan untuk peraturan yang lebih baik





















BAB II
KAJIAN TEORI DAN KERANGKA KERJA PIKIR

A.     Kajian Teori
·         Pengertian Penyimpangan Sosial
Perilaku penyimpangan (deviasi sosial) sebagai suatu bentuk perilaku yang tidak sesuai, melanggar, atau menyimpang dari nilai-nilai dan norma-norma sosial yang ada dalam masyarakat. Sehingga perilaku menyimpang dapat terjadi di mana saja, baik di keluarga maupun di masyarakat. Dengan perkataan lain, penyimpangan sosial (deviasi sosial) adalah semua tindakan yang tidak berhasil menyesuaikan diri (comformity) terhadap kehendak masyarakat.

·         Teori-teori Penyimpangan Sosial
Teori Differential Association. Teori ini mengatakan bahwa penyimpangan sosial bersumber pada pergaulan yang berbeda dan terjadi melalui proses alih budaya.
Teori Labeling. Pandangan teori ini, seseorang melakukan perilaku menyimpang karena proses Labeling, pemberian julukan, cap, etiket dan merek yang diberikan masyarakat secara menyimpang sehingga menyebabkan seseorang melakukan penyimpangan sosial sesuai dengan label yang diberikan.
Teori Merton (R. Merton). Teori penyimpangan ini bersumber dari struktur sosial sehingga terjadinya perilaku menyimpang itu sebagai bentuk adaptasi terhadap situasi tertentu.
Teori Fungsi (Durkheim). Bahwa kesadaran moral semua anggota masyarakat tidak mungkin terjadi karena setiap orang berbeda satu sama lainnya tergantung faktor keturunan, lingkungan fisik dan lingkungan sosial. Menurut Durkheim kejahatan itu perlu, agar moralitas dan hukum itu berkembang secara formal.
Teori konflik (Karl Marx). Menurut teori ini mengatakan bahwa perilaku menyimpang hanya dalam pandangan kelas yang berkuasa untuk melindungi kepentingan mereka. Jadi, karena ada kelas atas yang selalu menindas kelas bawah akan menimbulkan pertentangan dan menjadikan tindakan menyimpang.




B.      Faktor-faktor penyimpangan sosial
Tidak dipungkiri bahwa setiap tindakan manusia ada sebabnya, atau sering dikatakan hokum sebab-akibat, begitu juga dengan perilaku menyimpang. Perilaku menyimpang disebabkan oleh beberapa faktor sebagai berikut:
·         Pertentangan antara norma kelompok dengan norma masyarakat
·         Tidak mempunyai seseorang sebagai panutan dalam memahami dan meresapi tata nilai atau norma-norma yang berlaku di masyarakat.
·         Pengaruh lingkungan kehidupan sosial yang tidak baik.
·         Pertentangan antar agen sosialisasi
·         Pengaruh fisik dan jiwa seseorang.
·         Proses bersosialisasi yang negatif.
·         Ketidakadilan.

C.      Bentuk-bentuk penyimpangan sosial
Penyimpangan dalam masyarakat sering terjadi dan memiliki bentuk-bentuk tersendiri seperti penyimpangan yang dilakukan oleh individu, kelompok, campuran. Penyimpangan tersebut ada yang bisa diterima, ada pula yang tidak diterima oleh masyarakat karena ada penyimpangan yang dianggap positif oleh masyarakat. lebih lanjut, berikut bentuk penyimpangan dalam masyarakat:
  • Berdasarkan kadar penyimpangan.
Menurut Lemert (1951), Penyimpangan dibagi menjadi dua bentuk:
1.      Penyimpangan Primer (Primary Deviation). Penyimpangan yang dilakukan seseorang akan tetapi si pelaku masih dapat diterima masyarakat. Ciri penyimpangan ini bersifat temporer atau sementara, tidak dilakukan secara berulang-ulang dan masih dapat ditolerir oleh masyarakat. Contohnya: menunggak iuran listrik, telepon, melanggar rambu-rambu lalu lintas dll.
2.      Penyimpangan Sekunder (secondary deviation) Penyimpangan yang berupa perbuatan yang dilakukan seseorang yang secara umum dikenal sebagai perilaku menyimpang. Pelaku didominasi oleh tindakan menyimpang tersebut, karena merupakan tindakan pengulangan dari penyimpangan sebelumnya. Penyimpangan ini tidak bisa ditolerir oleh masyarakat. Penyimpangan jenis ini sangat merugikan orang lain, sehingga pelakunya dapat dikenai sanksi hukum atau pidana. Contohnya: pemabuk, pengguna obat-obatan terlarang, pemerkosaan, pelacuran, pembunuhan, perampokan, perjudian.
  • Berdasarkan pelaku penyimpangan
1.      Penyimpangan individu (individual deviation). Penyimpangan jenis ini dilakukan secara perorangan tanpa campur tangan orang lain dan berupa pelanggaran terhadap norma-norma suatu kebudayaan yang telah mapan. contohnya: tidak patuh pada perintah orang tua (Pembandel), tidak taat pada orang berwenang seperti RW atau guru (pembangkang), menerobos lampu merah (pelanggar), pencopet di pasar (perusuh atau penjahat).
2.      Penyimpangan kelompok (individual deviation). Penyimpangan yang dilakukan secara bersama-sama atau secara berkelompok dengan melanggar norma-norma yang berlaku dalam masyarakat. Penyimpangan yang dilakukan kelompok, umumnya sebagai akibat pengaruh pergaulan/teman. penyimpangan kelompok biasanya lebih sulit dikendalikan karena mereka patuh pada aturan kelompoknya dan fanatik sehingga lebih berbahaya dari penyimpangan individu. contohnya: tawuran pelajar, kenakalan remaja, penyimpangan kebudayaan, pemberontakan, perkelahian antar suku, agama, dan antar geng.
3.      Penyimpangan campuran (mixture of both deviation) Penyimpangan ini diawali oleh individu, selanjutnya memengaruhi orang lain agar ikut dalam penyimpangan. Dalam hal ini, orang yang terpengaruh akan mengikuti jejak para propokatornya. contohnya: demonstrasi damai berubah menjadi anarkis ketika salah satu demonstran melakukan penyimpangan, pemalsuan uang, dan pengedaran narkoba.

  • Berdasarkan sifat penyimpangan
1.      Penyimpangan positif. Penyimpangan atau perilaku yang melanggar atau tidak sesuai dengan nilai dan norma dalam masyarakat, tetapi memiliki dampak positif bagi dirinya atau masyarakat karena memberikan unsur kreatif dan inovatif. contohnya: dahulu istri (perempuan) tidak boleh kerja di luar atau mengerjakan pekerjaan lelaki seperti jadi sopir taksi, akan tetapi karena suami (laki-laki) tidak mampu lagi bekerja sehingga istri lah yang bekerja.
2.      Penyimpangan negatif. Penyimpangan ini bersifat negatif karena tindakannya cenderung merugikan dirinya, masyarakat, menghancurkan barang atau benda, bahkan menimbulkan korban. contohnya: korupsi, pencurian, demonstrasi anarkis, dan pembunuhan.

D.     Beberapa penyimpangan sosial dalam masyarakat
Nilai dan norma dibuat masyarakat untuk mengatur kehidupannya yang tertib dan tentram. Tapi tak jarang nilai dan norma tersebut dilanggar seseorang dan ini lah yang dinamakan tindakan menyimpang atau penyimpangan sosial. Dalam masyarakat terdapat beberapa pelanggaran terhadap nilai dan norma yaitu sebagai berikut:
1.      Penyalahgunaan narkotika a) Heroin b) Ganja c) Ekstasi d) Shabu-shabu
2.      Kenakalan remaja a) Bolos sekolah b) Tawuran c) Ugal-ugalan di jalan raya
3.      Minuman keras (alkoholisme)
4.      Pelacuran
5.      Penyimpangan seksual a) Lesbian dan homoseksual b) Sodomi c) Perzinahan (sek diluar nikah) d) Kumpul kebo
6.      Tindakan kejahatan a) Pembunuhan b) Pencurian c) Perampokan d) Pemerkosaan
7.      Gaya hidup a) Sikap arogansi b) Sikap eksentrik (sikap yang aneh dari lainnya seperti anak funk)
E.       Dampak Penyimpangan Sosial
Setelah dilakukan perilaku menyimpang akan bedampak pada pelaku penyimpangan dan juga bagi masyarakat sekitarnya. Berikut dampak dari penyimpangan sosial:
·         Dampak terhadap diri sendiri
1.      Dikucilkan masyarakat atau mencelakakan dirinya sendiri
2.      Terganggunya perkembangan jiwa
3.      Dapat mengahncurkan masa depan
4.      Dapat menjauhkan diri pada tuhan
·         Dampak terhadap masyarakat
1.      Terganggunya keseimbangan sosial
2.      Pudarnya nilai dan norma
3.      Merusak unsur-unsur budaya
4.      Kriminalitas

·         Dampak positif
1.      Menumbuhkan kesatuan masyarakat
2.      Memperkokoh nilai-nilai dan norma dalam masyarakat
3.      Memperjelas batas moral
4.      Mendorong terjadinya perubahan sosial
F.       Upaya Pencegahan dan Mengatasi Penyimpangan social

Banyak upaya yang mampu mencegah, mengantisivasi, dan mengatasi penyimpangan sosial dalam masyarakat. Berikut ini upaya pencegahan dan mengatasi penyimpangan sosial:
·         Penanaman nilai dan norma terhadap anak
·         Penanaman nilai-nilai ketuhanan
·         Pelaksanaan peraturan tidak memihak dan tegas
·         Pembentukan kepribadian yang kuat
·         Melaksanakan penyuluhan-penyuluhan dan rehabilitasi
·         Mengembangkan kegiatan-kegiatan positif
·         Mengembangkan kerukunan antar warga masyarakat
























BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A.       Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian adalah tempat dilakukannya penelitian. Penelitian ini dilaksanakan di sekolah yaitu di SMA N 3 TEGAL.
B.        Waktu Penelitian
Waktu penelitian dilakukan pada:
-    Februari sampai maret proses pembuatan rancangan penelitian .
-    Maret sampai April proses dilakukannya penelitian.
-    Mei proses pembuatan laporan penelitian.
C.        Bentuk Penelitian
-          Penelitian deskriptif yaitu penelitian yang melukiskan dan melaporkan suatu keadaan, objek atau peristiwa secara apa adanya berupa fakta
-          Penelitian Inferensial yaitu penelitian yang mampu menarik kesimpulan umum atas masalah yang sedang diteliti
D.       Sumber Data
-          Tempat, yaitu tempat di laksanakannya aktifitas penelitian
-          Aktifitas, kegiatan melakukan penelitian
-          Informan, objek tempat mememperoleh data
-          Dokumen, sumber data yang di peroleh dari subjek/objek lain

E.        Teknik Pengumpulan Data
-          Observasi dengan meneliti kegiatan penyimpangan yang terjadi di lingkungan sekolah.
-          Wawancara, dengan mewawancarai untuk mencari kesimpulan data yang diperoleh dari Guru BK dan Waka Kesiswaan.

F.         Teknik Cuplikan/Pengambilan Sampling
-          Simple random sampling (Sampling acak sederhana) : Pengambilan sampel dengan memberi kesempatan yang sama untuk dipilih bagi setiap individu dalam keseluruhan siswa.
-          Sampling Purposif (Puposive sampling) : Tekhnik penentuan untuk tujuan tertentu saja . Tekhnik ini dibutuhkan untuk mengurangi penyimpangan sosial di wilayah sekolah oleh bantuan Guru BK / Waka kesiswaan.

G.       Validitas Data
Data-data yang diperoleh dari lapangan perlu divalidkan, dalam penelitian ini, peneliti mengunakan teknik informant review atau umpan balik dari informan. Selain itu digunakan pula teknik triangulasi. Penggunaan teknik  triangulasi merupakan strategi untuk mengurangi bias sistematik dalam data. Masing-masing strategi melibatkan pengecekan temuan-temuan terhadap sumber lain. Sehingga triangulasi sebagai proses evaluasi dapat menjaga tuduhan bahwa temuan-temuan penelitian itu menggunakan alat sederhana baik metode, sumber, maupun bias penelitian.
Teknik triangulasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah triangulasi sumber, triangulasi metode, triangulasi teori.[1]Triangulasi sumber, yakni mengumpulkan data sejenis dari beberapa sumber data yang berbeda. Dalam hal ini, untuk memperoleh data tentang trilogi kepemimpinan  Tamansiswa, dikumpulkan dari hasil wawancara dengan kepala sekolah, pamong sosiologi, dan guru mata pelajaran yang lain. Triangulasi metode, yakni mengumpulkan data sejenis dengan menggunakan  teknik pengumpulan data yang berbeda yang dalam hal ini untuk mendapatkan data digunakan beberapa sumber dari hasil wawancara dan observasi. Triangulasi teori untuk menginterpretasikan data yang sejenis, misalnya pelaksanaan sistem among, implementasi trilogi kepemimpinan Ing ngarsa sung tulada, Ing madya mangun karsa, Tutwuri handayani dalam proses pembelajaran.

H. Teknik Analisis Data
Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis interaktif[2]. Dalam model analisis ini, tiga komponen analisanya yaitu reduksi data, sajian data dan penarikan kesimpulan atau verifikasi. Teknik analisis ini dapat dijelaskan sebagai berikut.
1.    Reduksi  Data
Reduksi data dapat diuraikan sebagai proses pemilihan, pemusatan perhatian pada penyederhanaan, pengabstrakan, dan transformasi data ”kasar” yang muncul di lapangan. Dalam pengumpulan data model ini, peneliti selalu membuat reduksi data dan sajian data sampai penyusunan kesimpulan. Artinya data yang didapat di lapangan kemudian disusun pemahaman arti di  segala peristiwa yang disebut reduksi data. Reduksi data dan sajian data ini disusun pada saat peneliti mendapatkan unit data yang diperlukan dalam penelitian. Dengan demikian reduksi data merupakan suatu bentuk analisis yang menajamkan, menggolongkan, mengarahkan, membuang yang tidak perlu, dan mengorganisasi sehingga kesimpulan data finalnya dapat ditarik dan diverifikasi.
2.    Penyajian Data
Penyajian data merupakan alur penting yang kedua dari analisis interaktif. Suatu penyajian, merupakan kumpulan informasi tersusun yang memberikan kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan. Penyajian data dilakukan setelah data telah mengalami proses reduksi data dan diikuti penyusunan data yang berupa cerita yang sistematis. Data yang sudah tersusun secara sistematis, data siap untuk disajikan dan ditarik kesimpulan sebagai hasil dari proses penelitian.
3.    Verifikasi/Penarikan Kesimpulan
Analisis yang ketiga yang penting adalah menarik kesimpulan atau verifikasi. Pengumpulan data terakhir peneliti mulai melakukan usaha menarik kesimpulan dengan menarik verifikasi berdasarkan reduksi data dan sajian data. Kesimpilan yang diambil penelitian harus memberikan kesimpulan secara longgar, terbuka dan skeptis[3]. Jika permasalahan yang diteliti belum terjawab dan atau belum lengkap, maka peneliti harus melengkapi kekurangan tersebut di lapangan terlebih dahulu.
Reduksi data, penyajian data sampai penyajian data aktivitasnya dilakukan dalam bentuk interaktif dengan proses pengumpulan data sebagai suatu proses yang berlanjut, berulang dan terus menerus hingga membentuk sebuah siklus. Dalam proses ini aktivitas peneliti bergerak di
Pengumpulan  Data
Sajian Data
Reduksi Data
Verifikasi/
Penarikan Kesimpulan
antara komponen analisis dengan pengumpulan data selama proses ini masih berlangsung. Selanjutnya peneliti hanya bergerak di antara tiga komponen analisis tersebut. Secara skematis proses analisis interaktif ini dapat digambarkan sebagai berikut.


                                                                                       


Gambar 1. Model Analisis Milles dan Hubberman


Hari/Tanggal


Nilai
Paraf Guru
Komentar balikan






 

³Patton, Michael Quinn, Qualitative Evaluation Methods. London. Sage, 1983, hlm. 24
17Miles. N.B. and Hubermen. Qualitative Data Analisis; A Saurcebook of New Method. Beverly Hills CA Sage Publication, 1984, hlm. 23.




BAB IV­­­­
PEMBAHASAN DAN ANALISIS


A.      PEMBAHASAN
1.       Profil Sekolah
Visi       : membentuk generasi penerus bangsa yang disiplin, terampil, beriman dan bertakwa
Misi        :              
1.    Menumbuhkan kedisplinan segenap warga sekolah, baik siswa, guru, karyawan, dan pemimpin sekolah
2.    Mengembangkan pelajaran bebasis TIK dan menerapkan keunggulan lokal sehingga setiap siswa dapat berkembang secara optimal sesuai dengan potensi yang dimiliki
3.    Mengembangkan kegiatan ekstrakulikuler untuk memberi bekal ketrampilan dan pembentukan watak pribadi yang mandira dan bermutu
4.    Menumbuhkan suasana sekolah yang religius dengan cara menempatkan nilai-nilai agama sebagai sumber kearifan dalam bertindak
5.    Mengembangkan lingkungan sekolah yang bersih, aman, trtib, dan asri

2.       Penguraian Penyimpangan
·      Penjelasan Sederhana
Perilaku menyimpang terjadi karena berlangsungnya proses sosialisasi yang tidak      Sempurna  dan adanya subkebudayaan penyimpangan sosial. Kedua sebab tersebut bisa dijelaskan secara singkat sebagai berikut.
1.   Berklangsungnya proses sosialisasi yang tidak sempurna. Artinya apa yang diajarkan dalam keluarga dan sekolah berbeda dengan apa yang dilihat dan dialami seseorang dalam kehidupan nyata jujur, namun dalam masyarakat ternyata begitu banyak orang berbuat tidak jujur.
2.   Adanya subkebudayaan penyimpanhan sosial. Artinya, seseorang tumbuh dan berkembang dalam lingkungan budaya yang diwarnai oleh subbudaya penyimpangan sosial. Misalnya, seorang anak yang tumbuh dan berkembang dalam lingkungan keluarga/masyarakat preman , potensial melakukan tindakan – tindakan premanisme.
·      Penjelasan Berdasarkan Teori – teori tentang Gejala Perilaku Menyimpang
Teori Biologis
Teori ini pertama kali dikemukakan pada tahun 1876 oleh caesare Lombroso (1835 – 1909). Ia adalah seorang dokter berkebangsaan italia yang berbagai penjara. Lombroso menyatakan, bahwa pelaku kejahatan pada umumnya memiliki ciri – ciri fisik yang berbeda bila dibandingkan dengan orang kebanyakan.
Menurut Lombroso, poara poelaku kejahatan umumnya memiliki cirri fisik : raut muka murung /sedih, rahang dan tulang pipi menonjol, daun telinga menonjol keluar, bulu – bulu yang berlebihan, dan jari – jari yang luar biasa  bisa panjang, sehingga membuat mereka menyerupai nenek moyang manusia (kera). Namun, menurut Charles Buckman Goring , ada kelamahan dalam pendapat Lombroso, yaitu hanya didasarkan pada penelitian dengan sampel yang sangat terbatas.
Lebih lanjut, menurut William Sheldon struktur tubuh berpredeksi  kriminalitas. Ia telah meneliti ratusan oranh berdasarkan tipe tubuh dan penelusuran sejarah kriminalitasnya. Berdasarkan penilitian itu dapat disimpulkan bahwa perilaku menyimpang umumnya terjadi pada orang yang  berotot dan memiliki tubuh atletis.
Kesimpulan tersebut dikuatkan oleh penelitian Sheldon Glueck dan  Eleanor Glueck. Tetapi mereka mengingatkan bahwa tubuh yang kekaritu umumnya merupakan akibat perlakuan/latihan dari orang tua dengan cara yang sangat rendah kerpada orang lain dan memiliki perilaku agresif.
Berbagai penelitian genetis dan sosiobiologi mutakhir terus mencoba mencari kaitan yang masuk akal antara kondisi biologis dan kejahatan. Namun, belum ada temuan yang rinci dan meyakinkan, yang mermbuktikan kaitan antara kondisi biologis dan kejahatan. Hanya, dapat disimpulkan bahwa faktor – faktor biologis bisa menyebabkan orang melakukan tindakan kejahatan.
Teori labeling
Menurut Howard S. Becker tindakan perilaku menyimpang  sesungguhnya tidak ada. Setiap tindakan sebenarnya bersifat “netral” dan “relative”. Artinya, makna tindakan itu relatif tergantung pada sudut pandang orang yang menilainya. Sebuah tindakan disebut perilaku menyimpang karena orang lain/masytarakat memaknai dan menamainya (labeling) sebagai perilaku menyimpang. Jika orang/ masyarakat tidak menyebut sebuah tindakan sebagai perilaku menyimpang, maka perilaku menyimpang itu tidak ada. Penyebutan sebuah tindakan parilaku menyimpang sangat bergantung pada proses deteksi, definisi, dan tanggapan  seseorang terhadap sebuah tindakan.
Sebagai contoh, sekolompok masyarakat disebuah desa difilipina melakukan tindakan sabung ayam sebagian penduduk Filipina tindakan itu ternyata merupakan ritual penting untuk menghayati kehidupan yang jujur. Jadi, proses deteksi, definisi, dan tanggapan seseorang terhadap tindakan sabung ayam akan sangat menentukan penamaan (labeling) tindakan itu, apakah tindakan itu akan disebut perilaku menyimpang ataukah kegiatan ritual.
Bagi Erving Goffman, perilaku menyimpang terjadi karena adanya stigma. Adalah penamaan yang sangat negatif kepada seseorang /kelompok sehingga mampu mengubah secara radikal konsep diri dan identitas social mereka. Adanya stigma akan membuat seseorang atau sebuah kelompok negatif dan diabaikan, sehingga mereka disisihkan secara sosial.
Lebih lanjut, menurut Harold Garfinkel ada kalanya masyarakat secara formal melakukan stigmatisasi melalui tata cara penghinaan (dengan – dation ceremony) .Stigmatisasi ini menjadi orang sakit secara mental (mental illness). Akibat selanjutnya, mereka terus menerus melakukan perilaku menyimpang.
Contoh, stigmatisasi yang pada umumnya dilakukan oleh masyrakat terhadap mantan nara pidana. Masyarakat umumnya menganggap mereka tak bisa menjadi orang baik – baik. Karena itu, umumnya mereka padahal, demikian menurut Thomas Szasz,sesungguhnya para nara pidana itu tidak mengalami sakit mental kalau mereka tidak dikenai stigmatisasi. Sebab, pada dasarnya sakit mental hanyalah sebuah mitos. Tetapi, stigmatisasi telah membuat mereka percaya pada mitos itu. Maka, disini berlaku dalil Thomas szasz, yang menyatakan:” situasi yang dianggap nyata akan benar- benar menjadi nyata” (situations defined as real become real in their consequences).
Teori sosialisasi
Pandangan dasar teori ini adalah bahwa penyimpangan sosial merupakan produk dari proses sosialisasi yang kurang sempurna atau gagal
Menurut Alberet Bandura dan Richard H.Walters misalnya, Anak-anak belajar prilaku menyimpang dengan mengamati dan meniru orang lain yang memiliki prilaku menyimpang. Khusus nya,mereka mengamati dan meniru orang yang dekat dengannya.
Selanjutnya, menurut Deborah M. Capaldi dan Gerald M.peterson, Anak-anak yang agresif umumnya berasal dari keluarga yang orang tuanya terlalu keras atau agresif. Akibatnya, anak kehilangan teladan pngendalian diri dan mungkin menanggapi hukuman dengan meningkatkan agresif. Intinya, perilaku menyimpang di hasilkan oleh proses sosialisasi yang sama dengan perilaku itu.
Sementara itu, menurut Mark S. Gaylord dan john F. galliher serta Edwin Sutherland, orang yang memiliki perilaku menyimpang cenderung  memiliki ikatan dengan orang lain yang memiliki perilaku menyimpang, dimana orang tersebut  mengokohkan Norma-norma dan nilai –nilai yang menyimpang. Perinsipnya, setiap kelompok sosial akan mewariskan nilai-nilai dan Norma-norma kelompoknya kepada anggota –anggota baru.
Kaum mudah pada umumnya sangat terbuka terhadap norma, perilaku, Dan Nilai-nilai yang berasal dari subkultur berbeda, termasuk subkultur perilku menyimpang. Karna itu,menurut Ronald R.Akers  perilaku Teman –teman dekat merupakan sarana yang paling baik untuk memprediksi apakah perilaku seorang anak mudah sesuai dengan norma yang berlaku ataukah perilaku menyimpang
Teori keterangan
Teori ketegangan  ( strain theory) dikemukakan oleh Robert K.Merton. Ia menyatakan bahwa perilaku menyimpang ditentukan oleh seberapa baik sebuah masyarakat mampu menciptakan keselarasan antara aspirasi warga masyarakat (missal, pekerjaan). Jika tidak keselarasan antara anspirasi-anspirasi warga masyarakat dengan ncara-cara legal yang ada, maka akan lahir perilaku menyimpang.
Jadi, perilaku menyimpang merupakan akibat dari adanya ketegangan antara anspirasi apa yang dianggap bernilai oleh warga masyarakat dan cara pencapaian anspirasi yang dianggap sah oleh masyarakat.
Terkait dengan perilaku menyimpang, merton memetakan adanya lima kemungkinan sikap seorang terhadap norma yang ada. Kelima kemungkinan sikap itu adalah : Konformitas (conformity),  inovasi (innovation),ritualisme (ritualism),retreatisme (rewtreatism), dan pemberontakan (rebellion).
Konformitas adalah kesediaan seseorang untuk menyesiaikan diri dengan norma yang ada dalam mewujudkan anspirasi/apa yang dianggap bernilai oleh masyarakat. Contoh, masyarakat menganggap bahwa kesuksesan hidup dicapai melalui kesuksesan materi. Karena itu, seorang yang ingin sukses berusaha mencapai kekayaan materi dengan bekerja keras mengoptimalkan semua potensi yang dimilikinya.
Namun, tidak semua orang memiliki talenta memadai untuk mencapai hidup sukses. Seseorang yang dilahirkan dalam keluarga yang sangat miskin misalnya, merasa tidak mungkin meraih sukses dengan mengikuti norma yang ada. Karena itu, ia mungkin akan berusaha meraih kesuksesan hidup dengan menempuh perilaku menyimpang, misalnya menjadi pengedar narkoba. Merton menyebut hal ini sebagai inovasi, yaitu upaya untuk mewujudkan aspirasi/apa yang dianggap bernilai dengan cara-cara tidak biasa /non –konvensional.
Sementara itu, ada pula warga masyarakat yang merasa memiliki hambatan untuk meraih kesuksesan hidup dengan cara yang sesuai dengan norma yang ada. Namun, ia tak bersedia untuk melanggar norma demi mewujudkan aspirasinya.Ia bersedia mengorbankan aspirasinya demi ketaatan kepada norma yang ada. Warga yang demikian, oleh Merton disebut bersikap litualisme.Menurut merton, hal ini sering terjadi dikalangan birokrat rendahan.
Disisi lain adapula warga masyarakat yang merasa memiliki hambatan untuk meraih kesuksesan hidup dengan cara yang sesuai dengan norma yang ada. Ia juga tak bersedia untuk melanggar norma demi mewujudka aspirasinya. Namun, ia bersikap menolak aspirasi/apa yang dianggap bernilai  norma yang ada dengan “menarik diri” dari masyarakat dengan berperilaku apatis terhadap keadaan atau melarikan diri dalam kebiasaan mengkonsumsi minuman  keras dan perilaku menyimpang lainnya. Warga yang bersikap demikian, oleh Merton disebut retreatisme.
Bentuk perilaku menyimpang yang keempat disebut pemberontakan. Seperti retreatisme ,pemberontakan menolak pandangan masyarakat mengenai apa yang dianggap bernilai dan juga norma-norma yang berlaku untuk mewujudkannya. Namun, Ia bukannya menarik diri dari masyarakat dan budaya  yang berlaku, melainkan berusaha secara radikal untuk  menggantikan nilai dan norma yang ada dengan nilai dan norma yang sama sekali baru. Pemberontakan politik atau keagamaan  umumnya termasuk kategori ini.
Teori Diforganisasi Sosial
Komsep tentang disorganisasi sosial di dasarkan pada karya  wilyam  l. Thomas dan florian znaneicki  serta karya Clifford Shaw dan henry McKay. Istilah di sorganisasikan sosail mengacu pada penjelasan mengenai perilaku menyimpang dan kondisi masyarakat yang menyebabkannya.
Menurut teori ini perilaku menyimpang merupakan produk dari perkembangan masyarakat yang tak seimbang. Di dalam terjadi perubahan dan konflik yang berdampak pada prilaku masrayakat.
Teori ini menekankan bahwa masyarakat teorganisasi bila anggota masyarakat membangun kesepakatan mengenai nilai dan norma funda mental sebangai dasar tindakan bersama. Organisasi sosial atau sosial terwujud ketika ada ikatan yang kuat di antara Indifudu-indufidu. Dan lembaga-lembaga dalam masyarakat. Ikatan ini  mengikuti ke sepakatan luas mengenai tujuan yang di hargai dan di perjuangkan . Dengan demikian, di sorganisasi sosial adalah kekacauan sosial .
Teori di sorganisasi sosial percaya , bahwa di sorganisasi sosial terjadi di sebagian besar kehidupan kota. Masyarakat kota di jadikan laboratorium studi mengenai prilaku menyimpang dan kejahatan penganut teori ini memusat penelitian pada di sorganisasi di wilaya lokal, Tempat-tempat kumuh atau pusat kota yang banyak terjadi kejahatan trostitusi, Bunih diri, dan berbangai bentuk, prilaku menyimpang lainnya.
Dalam pandangan teori ini , pola lingkungan kehidupan kota melahirkan disorganisasi sosial, yang mengakibatkan terjadinya prilaku menyimpang dan kejahatan.
Teori anomi
 Emile Durkheim,sosiolog dari prancis, memperkenalkan pada anomi (anomie) dalam karyanya yang terkenal The tahun 1893. Ia menggunakan konsep anomi untuk mendeskripsikan kondisi tanpa norma yang terjadi dalam masyarakat. Anomi berarti runtuhnya norma mengenai bagaimana masyarakat seharusnya bersikap terhadap yang lain. Masyarakat tidak tahu lagi apa yang bisa diharapkan dari orang lain. Kondsi itu, menurut Durkheim, akan melahirkan perilaku menyimpang.
Pada tahun 1897, Durkheim menggunakan kembali istilah anomi dalam penelitiannya mengenai bunuh diri (suicide) , yang mengacu pada kondisi tanpa norma moral. Disini Durkheim tertarik dengan dampak
Teori Konflik
Menurut teori ini, perilaku menyimpang merupakan akibat dari ketidaksamaan dalam masyarakat. Teori ini menekankan bahwa seseorang atau perbuatan yang disebut perilaku menyimpang tergantung pada kekuasaan relative dari kelompok masyarakat.
Alexander Liazos (1972) mencatat bahwa konsep umum mengenai perilaku menyimpang misalnya orang gila, pelacur, gelandangan menunjuk pada masyarakat yang tidak memiliki kekuasaan. Mereka diberi stigma sebagai pelaku perilaku menyimpang.
Menurut teori konflik, gejala perilaku menyimpang terkait dengan praktik kekuasaan yang tidak adil. Hal itu tampak dalam ketiga hal berikut.
ü  Norma-norma khususnya norma hukum dari setiap masyarakat pada umumnya menguntungkan mereka yang kaya dan berkuasa.Karl Marx mengatakan bahwa hukum (bersama dengan lembaga sosial yang lain) cenderung mendukung kepentingan kaum kaya. Senada dengan Marx, Richard Quinney menyatakan bahwa keadilan kapitalis dilakukan oleh kelas kapitalis, untuk melawan kelas buruh.
ü  Jika perilaku kaum kaya dan berkuasa dipersoalkan, mereka memiliki berbagai sarana untuk menolak sebutan sebagai pelaku perilaku menyimpang. Berbagai kasus hukum di Indonesia dengan sangat jelas menunjukkan hal ini. Seorang tukang becak yang baru pertama kali mencuri uang Rp. 5.000,00 akan segera dipukuli massa dan dianggap sebagai pencuri. Sementara itu pelaku korupsi milyaran bisa melenggang dengan gembira.
ü  Norma-norma dan hukum merupakan topeng yang sangat baik untuk menutupi berbagai perilaku curang kaum kaya dan berkuasa. Banyak orang mengutuk penerapan hokum yang sering tidak sama. Namun, mereka tidak memperhatikan bahwa sesungguhnya aturan hukum itu sendiri tidak adil. Karena itu, aturan hukum sering kali merupakan topeng bagi kejahatan yang dilakukan oleh mereka yang kaya dan berkuasa.


B.       ANALISIS
1.  Faktor yang menyebabkan Perilaku Menyimpang
·           Perbedaan status (kesenjangan) sosial antara si kaya dan si miskin yang sangat mencolok mengakibatkan timbulnya rasa iri dan dengki sehingga terjadilah pencurian dan saling ejek.
·           Ketidaksanggupan menyerap norma-norma kebudayaan. Karena ketidaksanggupan menyerap norma-norma kebudayaan kedalam kepribadiannya maka seorang individu tidak mampu membedakan perilaku yang pantas dan perilaku yang tidak pantas bagi masyarakat di sekitarnya.
·           Sikap mental yang tidak sehat membuat orang tidak pernah merasa bersalah atau menyesali perilakunya yang dianggap menyimpang.
·           Kriminolog Italia Cesare Lombroso berpendapat bahwa orang jahat dicirikan dengan ukuran rahang dan tulang-tulang pipi panjang, kelainan pada mata yang khas, tangan-tangan, jari-jari kaki serta tangan relatif besar, dan susunan gigi yang abnormal.
·           Proses belajar yang menyimpang. Seseorang yang melakukan tindakan menyimpang karena seringnya membaca atau melihat tayangan tentang perilaku menyimpang. Hal itu dapat membuat seseorang ingin meniru tokoh yang ada di tayangan tersebut walaupun itu adalah termasuk perilaku menyimpang.
·           Penyimpangan karena hasil proses sosialisasi subkebudayaan menyimpang. Subkebudayaan adalah suatu kebudayaan khusus yang normanya bertentangan dengan norma-norma budaya yang dominan. Unsur budaya menyimpang meliputi perilaku dan nilai-nilai yang dimiliki oleh anggota-anggota kelompok yang bertentangan dengan tata tertib masyarakat.
·           Lingkungan pergaulan sangat mempengaruhi perkembangan sikap dan perilaku seseorang. Biasanya orang akan mengikuti dan beradaptasi dengan lingkungan pergaulannya walaupun itu sudah termasuk perilaku menyimpang.
·           Ketegangan antara kebudayaan dan struktur sosial. Terjadinya ketegangan antara kebudayaan dan struktur sosial dapat mengakibatkan perilaku yang menyimpang. Hal itu terjadi jika dalam upaya mencapai suatu tujuan seseorang tidak memperoleh peluang, sehingga ia mengupayakan peluang itu sendiri, maka terjadilah perilaku menyimpang.
·           Banyaknya pemuda yang putus sekolah menyebabkan hilangnya kesempatan untuk mencari kerja. Akibatnya mereka harus menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang walaupun itu termasuk perilaku menyimpang seperti mengemis atau mencuri.
·           Ikatan sosial yang berlainan. Setiap orang biasanya berhubungan dengan beberapa kelompok yang berbeda. Hubungan dengan kelompok-kelompok tersebut akan cenderung membuatnya mengidentifikasi diri dengan kelompokyang paling dihargainya. Dalam hubungan ini individu akan memperoleh pola-pola sikap dari perilaku kelopoknya. Jika perlaku kelompok tersebut menyimpang maka kemungkinan besar ia juga akan menunjukkan pola-pola perilaku menyimpang.
·           Ketidakharmonisan keluarga memicu stres terutama pada anak remaja. Mereka menjadi semakin labil karena tidak mendapat perhatian dari orangtuanya.
·           Mencari perhatian juga menjadi sebab terjadinya perilaku menyimpang. Kemungkinan itu disebabkan oleh kurangnya perhatian dari orangtua dan gurunya sehingga dia selalu berusaha untuk mendapatkan perhatian dari orang lain walaupun itu menyimpang.
·           Dorongan ekonomi biasanya menjadi faktor utama untuk melakukan suatu perilaku menyimpang. Contoh adalah seperti orang yang mencuri karena terdesak dengan kebutuhan pokoknya yang tidak terpenuhi.
·           Kegagalan dalam proses sosialisasi. Keluarga inti maupun keluarga luas bertanggung jawab terhadap penanaman nilai dan norma pada anak. Kegagalan proses pendidikan dalam keluarga menyebabkan terjadinya penyimpangan.
·           Labelling. Faktor pelabelan pertama kali di ungkapkan oleh Edwin M. Lemert dalam teori pelabelan. Menurutnya seseorang melakukan perilaku menyimpang diberi cap (label negatif) oleh masyarakat.

2.  bentuk perilaku menyimpang siswa SMAN 3 TEGAL di lingkungan sekolah ?

Di pagi hari ketika bel masuk sudah berbunyi, hampir setiap hari masih banyak siswa yang belum sampai di sekolah, dengan kata lain banyak siswa yang terlambat. Sehingga tempat parkiran terlihat berantakan karena siswa yang terlambat tersebut meletakkan kendaraanya dari arah berlawanan jadi siswa tersebut hanya sembarangan meletakkan.
Ketika KBM berlangsung, banyak siswa yang berkeliaran terutama pada saat jam pelajaran kosong. Adapula siswa yang tanpa sepengetahuan guru menggunakan ponsel, dan menyalahgunakan laptop untuk membuka situs yang kurang penting. Hal ini menyebabkan banyak siswa yang tidak mengerjakan tugas karena siswa tersebut tidak memperhatikan penjelasan yang disampaikan oleh guru. Pada saat jam pelajaran terakhir adalah jam kosong, siswa berkeliaran pulang sebelum bel pulang berbunyi.
Saat upacara berlangsung, beberapa siswa atau peserta upacara tidak hidmat dalam mengikuti upacara bendera yang sedang berlangsung. Sehingga menyebabkan keributan saat pembina upacara berbicara. Adapula beberapa siswa yang terlihat tidak menggunakan atribut upacara lengkap, seperti dasi maupun topi.
Penyimpangan lain yang terjadi ada hubungannya dengan kedisiplinan. Misalnya, sebagian siswa laki-laki berpakaian kurang rapi dari mulai pakaian yang keluar, rambut yang memanjang dan sepatu yang berwarna selain hitam. Dan jika diperhatikan lebih banyak siswa yang lebih memilih berduduk duduk santai di kantin atau diteras kelas dibandingkan pergi membaca di perpustakaan. Dari mushola juga bisa dilihat, bahwa alat sholat terlihat kurang rapi atau berantakan dikarenakan banyak siswi yang tidak merapikan kembali mukenah yang telah digunakan.












BAB V
PENUTUP

A.      KESIMPULAN
Dari hasil pengamatan yang telah di lakukan, kami menyimpulkan bahwa hampir semua siswa di SMA Negeri 3 Tegal pernah melakukan penyimpangan baik yang bersifat sederhana maupun bersifat berlebihan atau keterlaluan. Dalam hal ini guru ikut berperan penting untuk membantu siswa mengendalikan penyimpangan yang terjadi di sekolah dengan memberikan bimbingan konseling maupun melaui bantuan bimbingan orang tua, sehingga dapat mengurangi gangguan serta dampak negatif yang suatu saat akan menimbukan dampak negatif  dan merugikan diri sendiri maupun orang lain.
B.      SARAN
Sangat diharapkan kepada siswa siswi SMA Negeri 3 Tegal untuk mematuhi peraturan yang berlaku, sehingga dapat mewujudkan lingkungan sekolah yang aman dan damai.
Saran selanjutnya diberikan kepada guru BK untuk lebih tegas lagi memberi hukuman terhadap siswa – siswi yang melanggar tata tertib sekolah. Dengan demikian siswa menjadu lebih segan terhadap peraturan sekolah.
Yang terakhir diberikan kepada pembaca, agar lebih meatuhi tata tertib yang ada, dan tidak segan-segan untuk menegur siswa/siswi yang melanggar tata tertib dan atau berperilaku kurang sopan.








[1]Moleong. op.cit. hlm. 330.




²Miles dan Huberman, 1984.
.



Selasa, 18 November 2014

Anggaran Pendapatan Belanja Daerah(APBD)

Diposting oleh Nazilatul Khikmah di 07.35 0 komentar Link ke posting ini

Arti, Fungsi, dan tujuan APBD
Menurut undang-undang no.17 tahun 2003 tentang keuangan negara, APBD merupakan wujud pengelolaan keuangan daerah yang ditetapkan setiap tahun dengan peraturan daerah. Dengan kata lain, APBD adalah daftar terperinci mengenai pendapatan dan pengeluaran daerah dalam waktu satu tahun yang telah disahkan dewan perwakilan rakyat daerah (DPRD).
APBD disusun sebagai pedoman pendapatan dan belanja dalam melaksanakan kegiatan pemerintah daerah. Sehingga dengan adanya APBD, pemerintah daerah sudah memiliki gambaran yang jelas tentang apa saja yang akan diterima sebagai pendapatan dan pengeluaran apa saja yang harus dikeluarkan, selama satu tahun. Dengan adanya APBD sebagai pedoman, maka kesalahan, pemborosan, dan penyelewengan yang merugikan dapat dihindari.
APBD memiliki beberapa fungsi sebagai berikut:
1. Fungsi penyelenggaraan pemerintah yang terdiri dari pelayanan pembangunan dan pemberdayaan.
 
2. Sebagai stimulus pertumbuhan ekonomi daerah.
3. Sarana evaluasi pencapaian kinerja dan tanggung jawab pemerintah menyejahterakan masyarakat.
Sementara itu, menurut Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2003, pasal 66, APBD memiliki fungsi sebagai berikut:
1. Fungsi Otorisasi, bahwa APBD menjadi dasar bagi Pemerintah Daerah untuk melaksanakan pendapatan dan belanja pada tahun yang bersangkutan.
2. Fungsi Perencanaan, bahwa APBD menjadi pedoman bagi pemerintah daerah untuk merencanakan kegiatan pada tahun yang bersangkutan.
3. Fungsi Pengawasan, bahwa APBD menjadi pedoman untuk menilai (mengawasi) apakah kegiatan penyelenggaraan pemerintah daerah sudah sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan.
4. Fungsi Alokasi, bahwa APBD dalam pembagiannya harus diarahkan dengan tujuan untuk mengurangi pengangguran, pemborosan sumber daya, serta meningkatkan efisiensi dan efektivitas perekonomian.
5. Fungsi Distribusi, bahwa APBD dalam pendistribusiannya harus memerhatikan rasa keadilan dan kepatutan.
Sumber pendapatan APBD
Menurut undang-undang no. 33 tahun 2004, sumber pendapatan APBD terdiri dari:
1. Pendapatan asli daerah (PAD)
Pendapatan asli daerah adalah pendapatan asli yang diperoleh dari daerah tersebut, yang meliputi pajak daerah, retribusi daerah, hasil pengolahan kekayaan daerah yang dipisahkan, dan lain-lain PAD yang sah seperti pendapatan bunga, jasa giro, komisi, dan potongan.
 
2. Dana perimbangan
Dana perimbangan adalah pendapatan yang diperoleh daerah dari APBN, meliputi:
a. Dana bagi hasil, yaitu dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada daerah berdasarkan angka persentase tertentu dari pajak dan SDA (Sumber Daya Alam) untuk mendanai kebutuhan daerah.
b. Dana alokasi umum, yaitu dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada daerah dengan tujuan pemerataan kemampuan keuangan antar daerah.
c. Dana alokasi khusus, yaitu dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada daerah tertentu dengan tujuan untuk mendanai kegiatan khusus daerah yang sesuai dengan prioritas nasional.
3. Lain-lain pendapatan
Terdiri dari:
a. Hibah, merupakan bantuan yang tidak mengikat dari pihak lain.
b. Dana darurat, merupakan dana dari APBN yang diberikan kepada daerah untuk keperluan mendesak.


Sabtu, 27 September 2014

Satnight Kali ini

Diposting oleh Nazilatul Khikmah di 07.37 0 komentar Link ke posting ini
hai readers :) satnight nih, daripada bengong, mending ngepost sesuatu deh :D aku pengen ceritain semuanya tapi kan gak mungkin juga ya, gini2 juga sosial media namanya, siapapun bisa baca ini.
sekarang keadaan lagi ssusah, aku harus ekstra sabarr ngadepin ini semua..
gak masalah kalu hatersku nambah banya, prinsipku "aku harus bisa nylesein tugas2ku, dengan baik. aku pengen acara yang aku pegang berjalan dengan lancar" aku iri deh sama temenku mereka sekarang beda banget, mereka udah gede, tambah cantik, pinter.. sedangkan aku? masih cerumut, gak pinter-pinter juga -__- tapi gakpapa, ini aku yang membedakan aku dari yang lain. aku disini untuk belajar berdiri dengan tumpuan kaki, tanpa harus merepotkan orang lain.
sekarang aku punya keluarga baru, namanya "Bee Family" ^^ aku punya mereka, mereka yang gilanya gak ketulungan.. yang setiap anggotanya punya kelebihan dan kekurangan yang unik. hampir semua aku tau sifat-sifatnya mereka. ada yang mukanya tablo + suaranyaaa cetar, bayangin aja coba baru denger suaranya aja udah ngakak apalagi liatin mukany, gak kuat ngakak hahhah dia itu arnand partner aku.
ada juga yang suka ketawa-ketawa, tingkahnya juga lucu, tapi kalo udah marah gak ketulungan, sebenernya dia itu tegas, baik, enak lah diajak becanda, itu yuniar namanya
dan masih banyak lagi sebenarnya tapi males ngetik hahhah :p maaf yaa buat yang lain yang belum disebutin akunya udah ngantu hehhe :D

Rabu, 23 Juli 2014

Ceritanya curhat gitu

Diposting oleh Nazilatul Khikmah di 08.25 1 komentar Link ke posting ini
entah sampe kapan gue stalking timeline lo. jujur kadang gue nyesek, bete kalo tiap buka twitter harus ngestalk TL lo. tapi susah buat gue brenti jadi stalker lo, walaupun itu cuma sehari. SUSAH!
pernah gue berharap lo stalking timeline gue.. tapi itu gak mungkin. karna lo udah milik orang lain. lo pasti cinta banget kan sama pacar lo sekarang. gue tauu.. kenapa sampe gue tau? karna gue Stalker Sejati lo. yang entah sampe kapan akan stalking timeline lo.
ya gue sih cuma berpesan, semoga lo sama pacar lo longlast, semoga bagus nilai UN-nya, bisa jadi kapten yang baik, bisa bangain ortu. gue tau lo itu hebat.. berkarisma. jujur gue suka sama kamu sejak ukk kemaren. 
lo dateng dan pergi, ninggalin jejak di hati gue. lo tau susahnya ngehapus jejak ini, jejak yang udah terlanjur dalam. mungkin percuma gue nulis kaya gini, tapi seengganya gue udah ngungkapin yang sebenarnya walu gak secara langsung. gue pengen banget liat senyum lo kak. minimal sekali dalam sehari

Kamis, 19 Juni 2014

Sulit bagiku tuk lupakan sosokmu

Diposting oleh Nazilatul Khikmah di 07.34 0 komentar Link ke posting ini
aku tau aku harus bisa melupakan sosokmu, yang mampu membuatku tersenyum.. yang mampu membuatku salah tingkah. namun, melupakanmu tidak semudah membalikan telapak tangan. sulit bagiku tuk hapus memori tentang dirimu. kau hadir.. dan kemudian pergi lagi. entah akan berapa lama kau pergi. haruskah kumenunggu kau kembali? apakah ku harus merelakan dirimu? entahlah.. aku bingung.
sesungguhnya aku tau, aku tak pantas bersamamu, mengharapkanmu. namun sulit bagiku tuk lupakan semua tentangmu. kau datang dan pergi tanpa izin, seakan akan aku ini terminal, yang mudah kau singgahi dan kemudian pergi lagi. aku punya hati dan fikiran. tahukah kamu? aku sangat merindukanmu. senyummu.. tawamu, aku rindu semua tentangmu.
namun aku harus mampu merelakanmu. karna ini bukan waktu yang baik untuk mekirkan hal seperti ini. aku pergi. selamat tinggal~
aku berharap kau kembali, dengan membawa kepastian, bukan harapan palsu.
aku percaya jika suatu saat nanti kita pasti bertemu. dengan keadaan yang berbeda. semoga. amin.

Jumat, 23 Mei 2014

contoh makalah penelitian_soiologi

Diposting oleh Nazilatul Khikmah di 22.47 0 komentar Link ke posting ini
BAB I
PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang Masalah
Pada dasarnya banyak sekali perilaku menyimpang terjadi di sekitar kita, apalagi di masyarakat dan lingkungannya, sampai mengakibatkan sebuah atau banyak masalah karena penyimpangan yang mereka buat. Banyak sekali kejadian-kejadian penyimpangan social yang sering kita lihat.
Beberapa contoh penyimpangan sosisal yang terjadi di masyarakat yaitu perampokan, pencurian, tawuran, pelecehan seksual dan dan banyak lagi yang sering kita dengar di media lain
Penyimpangan yang terjadi ketika di teliti juga pasti bermacam-macam penyebebnya, entah itu masuk akal maupun hanya di buat-buat. Diamati sekali tahun demi tahun banyak sekali penyimpangan sosial baru yang terjadi di masyarakat, lingkungan keluarga, lingkungan bermain, bahkan di sekolah-sekolah menengah atas, di beberapa kota juga sering diberitakan adanya penyimpangan sosial
Seperti halnya sekolah menengah atas lainnya, di SMA N 3 TEGAL juga banyak sekali siswa-siswi yang melakukan tindakan-tindakan yang menyimpang, mungkin saja itu terjadi karena linkungan di luar sekolah yang kurang baik
Banyak sekali siswa yang membolos, terlambat datang ke sekolah, merokok diam-diam di kamar mandi pada saat jam istirahat maupun jam pelajaran berlangsung, berkelahi dengan teman sepermainan entah itu dilakukan di dalam sekolah maupun di luar sekolah, berpakaian tidak rapih, rambut berantakan dan lainnya. Bagi beberapa siswa mungkin menganggap sekolah hanya sebagai tittle. Itu semua merupakan beberapa contoh penyimpangan yang terjadi di SMAN 3 TEGAL.

B.      Identifikasi Masalah
1.      Di masyarakat banyak sekali penyimpangan sosial yang terjadi
2.      Di SMAN 3 TEGAL juga banyak sekali siswa yang melanggar peraturan
3.      Masih banyak sekali siswa yang membolos, dating terlambat, bergaul bebas, dan merokok di lingkungan sekolah
4.      Banyak juga yang akhirnya mengakibatkan suatu masalah untuk merekabaik di dalam maupun diluar sekolah





C.      Rumusan Masalah
1.      Apa bentuk perilaku menyimpang siswa SMAN 3 TEGAL di lingkungan sekolah ?
2.      Apa faktor yang menyebkan terjadinya perilaku menyimpang ?

D.      Tujuan Penelitian
1.      Mengetahui bentuk perilaku menyimpang di SMAN 3 TEGAL
2.      Mengetahui faktor penyebab terjadinya perilaku menyimpang yang di lakuakan oleh siswa-siswi di SMAN 3 TEGAL

E.      Manfaat Penelitian
1.      Manfaat bagi peneliti
-          Menambah wawasan
-          Melatih cara berfikir secara ilmiah
2.      Manfaat bagi sekolah
-          Sebagai bahan represi masukan untuk peraturan yang lebih baik





















BAB II
KAJIAN TEORI DAN KERANGKA KERJA PIKIR

A.     Kajian Teori
·         Pengertian Penyimpangan Sosial
Perilaku penyimpangan (deviasi sosial) sebagai suatu bentuk perilaku yang tidak sesuai, melanggar, atau menyimpang dari nilai-nilai dan norma-norma sosial yang ada dalam masyarakat. Sehingga perilaku menyimpang dapat terjadi di mana saja, baik di keluarga maupun di masyarakat. Dengan perkataan lain, penyimpangan sosial (deviasi sosial) adalah semua tindakan yang tidak berhasil menyesuaikan diri (comformity) terhadap kehendak masyarakat.

·         Teori-teori Penyimpangan Sosial
Teori Differential Association. Teori ini mengatakan bahwa penyimpangan sosial bersumber pada pergaulan yang berbeda dan terjadi melalui proses alih budaya.
Teori Labeling. Pandangan teori ini, seseorang melakukan perilaku menyimpang karena proses Labeling, pemberian julukan, cap, etiket dan merek yang diberikan masyarakat secara menyimpang sehingga menyebabkan seseorang melakukan penyimpangan sosial sesuai dengan label yang diberikan.
Teori Merton (R. Merton). Teori penyimpangan ini bersumber dari struktur sosial sehingga terjadinya perilaku menyimpang itu sebagai bentuk adaptasi terhadap situasi tertentu.
Teori Fungsi (Durkheim). Bahwa kesadaran moral semua anggota masyarakat tidak mungkin terjadi karena setiap orang berbeda satu sama lainnya tergantung faktor keturunan, lingkungan fisik dan lingkungan sosial. Menurut Durkheim kejahatan itu perlu, agar moralitas dan hukum itu berkembang secara formal.
Teori konflik (Karl Marx). Menurut teori ini mengatakan bahwa perilaku menyimpang hanya dalam pandangan kelas yang berkuasa untuk melindungi kepentingan mereka. Jadi, karena ada kelas atas yang selalu menindas kelas bawah akan menimbulkan pertentangan dan menjadikan tindakan menyimpang.




B.      Faktor-faktor penyimpangan sosial
Tidak dipungkiri bahwa setiap tindakan manusia ada sebabnya, atau sering dikatakan hokum sebab-akibat, begitu juga dengan perilaku menyimpang. Perilaku menyimpang disebabkan oleh beberapa faktor sebagai berikut:
·         Pertentangan antara norma kelompok dengan norma masyarakat
·         Tidak mempunyai seseorang sebagai panutan dalam memahami dan meresapi tata nilai atau norma-norma yang berlaku di masyarakat.
·         Pengaruh lingkungan kehidupan sosial yang tidak baik.
·         Pertentangan antar agen sosialisasi
·         Pengaruh fisik dan jiwa seseorang.
·         Proses bersosialisasi yang negatif.
·         Ketidakadilan.

C.      Bentuk-bentuk penyimpangan sosial
Penyimpangan dalam masyarakat sering terjadi dan memiliki bentuk-bentuk tersendiri seperti penyimpangan yang dilakukan oleh individu, kelompok, campuran. Penyimpangan tersebut ada yang bisa diterima, ada pula yang tidak diterima oleh masyarakat karena ada penyimpangan yang dianggap positif oleh masyarakat. lebih lanjut, berikut bentuk penyimpangan dalam masyarakat:
  • Berdasarkan kadar penyimpangan.
Menurut Lemert (1951), Penyimpangan dibagi menjadi dua bentuk:
1.      Penyimpangan Primer (Primary Deviation). Penyimpangan yang dilakukan seseorang akan tetapi si pelaku masih dapat diterima masyarakat. Ciri penyimpangan ini bersifat temporer atau sementara, tidak dilakukan secara berulang-ulang dan masih dapat ditolerir oleh masyarakat. Contohnya: menunggak iuran listrik, telepon, melanggar rambu-rambu lalu lintas dll.
2.      Penyimpangan Sekunder (secondary deviation) Penyimpangan yang berupa perbuatan yang dilakukan seseorang yang secara umum dikenal sebagai perilaku menyimpang. Pelaku didominasi oleh tindakan menyimpang tersebut, karena merupakan tindakan pengulangan dari penyimpangan sebelumnya. Penyimpangan ini tidak bisa ditolerir oleh masyarakat. Penyimpangan jenis ini sangat merugikan orang lain, sehingga pelakunya dapat dikenai sanksi hukum atau pidana. Contohnya: pemabuk, pengguna obat-obatan terlarang, pemerkosaan, pelacuran, pembunuhan, perampokan, perjudian.
  • Berdasarkan pelaku penyimpangan
1.      Penyimpangan individu (individual deviation). Penyimpangan jenis ini dilakukan secara perorangan tanpa campur tangan orang lain dan berupa pelanggaran terhadap norma-norma suatu kebudayaan yang telah mapan. contohnya: tidak patuh pada perintah orang tua (Pembandel), tidak taat pada orang berwenang seperti RW atau guru (pembangkang), menerobos lampu merah (pelanggar), pencopet di pasar (perusuh atau penjahat).
2.      Penyimpangan kelompok (individual deviation). Penyimpangan yang dilakukan secara bersama-sama atau secara berkelompok dengan melanggar norma-norma yang berlaku dalam masyarakat. Penyimpangan yang dilakukan kelompok, umumnya sebagai akibat pengaruh pergaulan/teman. penyimpangan kelompok biasanya lebih sulit dikendalikan karena mereka patuh pada aturan kelompoknya dan fanatik sehingga lebih berbahaya dari penyimpangan individu. contohnya: tawuran pelajar, kenakalan remaja, penyimpangan kebudayaan, pemberontakan, perkelahian antar suku, agama, dan antar geng.
3.      Penyimpangan campuran (mixture of both deviation) Penyimpangan ini diawali oleh individu, selanjutnya memengaruhi orang lain agar ikut dalam penyimpangan. Dalam hal ini, orang yang terpengaruh akan mengikuti jejak para propokatornya. contohnya: demonstrasi damai berubah menjadi anarkis ketika salah satu demonstran melakukan penyimpangan, pemalsuan uang, dan pengedaran narkoba.

  • Berdasarkan sifat penyimpangan
1.      Penyimpangan positif. Penyimpangan atau perilaku yang melanggar atau tidak sesuai dengan nilai dan norma dalam masyarakat, tetapi memiliki dampak positif bagi dirinya atau masyarakat karena memberikan unsur kreatif dan inovatif. contohnya: dahulu istri (perempuan) tidak boleh kerja di luar atau mengerjakan pekerjaan lelaki seperti jadi sopir taksi, akan tetapi karena suami (laki-laki) tidak mampu lagi bekerja sehingga istri lah yang bekerja.
2.      Penyimpangan negatif. Penyimpangan ini bersifat negatif karena tindakannya cenderung merugikan dirinya, masyarakat, menghancurkan barang atau benda, bahkan menimbulkan korban. contohnya: korupsi, pencurian, demonstrasi anarkis, dan pembunuhan.

D.     Beberapa penyimpangan sosial dalam masyarakat
Nilai dan norma dibuat masyarakat untuk mengatur kehidupannya yang tertib dan tentram. Tapi tak jarang nilai dan norma tersebut dilanggar seseorang dan ini lah yang dinamakan tindakan menyimpang atau penyimpangan sosial. Dalam masyarakat terdapat beberapa pelanggaran terhadap nilai dan norma yaitu sebagai berikut:
1.      Penyalahgunaan narkotika a) Heroin b) Ganja c) Ekstasi d) Shabu-shabu
2.      Kenakalan remaja a) Bolos sekolah b) Tawuran c) Ugal-ugalan di jalan raya
3.      Minuman keras (alkoholisme)
4.      Pelacuran
5.      Penyimpangan seksual a) Lesbian dan homoseksual b) Sodomi c) Perzinahan (sek diluar nikah) d) Kumpul kebo
6.      Tindakan kejahatan a) Pembunuhan b) Pencurian c) Perampokan d) Pemerkosaan
7.      Gaya hidup a) Sikap arogansi b) Sikap eksentrik (sikap yang aneh dari lainnya seperti anak funk)
E.       Dampak Penyimpangan Sosial
Setelah dilakukan perilaku menyimpang akan bedampak pada pelaku penyimpangan dan juga bagi masyarakat sekitarnya. Berikut dampak dari penyimpangan sosial:
·         Dampak terhadap diri sendiri
1.      Dikucilkan masyarakat atau mencelakakan dirinya sendiri
2.      Terganggunya perkembangan jiwa
3.      Dapat mengahncurkan masa depan
4.      Dapat menjauhkan diri pada tuhan
·         Dampak terhadap masyarakat
1.      Terganggunya keseimbangan sosial
2.      Pudarnya nilai dan norma
3.      Merusak unsur-unsur budaya
4.      Kriminalitas

·         Dampak positif
1.      Menumbuhkan kesatuan masyarakat
2.      Memperkokoh nilai-nilai dan norma dalam masyarakat
3.      Memperjelas batas moral
4.      Mendorong terjadinya perubahan sosial
F.       Upaya Pencegahan dan Mengatasi Penyimpangan social

Banyak upaya yang mampu mencegah, mengantisivasi, dan mengatasi penyimpangan sosial dalam masyarakat. Berikut ini upaya pencegahan dan mengatasi penyimpangan sosial:
·         Penanaman nilai dan norma terhadap anak
·         Penanaman nilai-nilai ketuhanan
·         Pelaksanaan peraturan tidak memihak dan tegas
·         Pembentukan kepribadian yang kuat
·         Melaksanakan penyuluhan-penyuluhan dan rehabilitasi
·         Mengembangkan kegiatan-kegiatan positif
·         Mengembangkan kerukunan antar warga masyarakat
























BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A.       Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian adalah tempat dilakukannya penelitian. Penelitian ini dilaksanakan di sekolah yaitu di SMA N 3 TEGAL.
B.        Waktu Penelitian
Waktu penelitian dilakukan pada:
-    Februari sampai maret proses pembuatan rancangan penelitian .
-    Maret sampai April proses dilakukannya penelitian.
-    Mei proses pembuatan laporan penelitian.
C.        Bentuk Penelitian
-          Penelitian deskriptif yaitu penelitian yang melukiskan dan melaporkan suatu keadaan, objek atau peristiwa secara apa adanya berupa fakta
-          Penelitian Inferensial yaitu penelitian yang mampu menarik kesimpulan umum atas masalah yang sedang diteliti
D.       Sumber Data
-          Tempat, yaitu tempat di laksanakannya aktifitas penelitian
-          Aktifitas, kegiatan melakukan penelitian
-          Informan, objek tempat mememperoleh data
-          Dokumen, sumber data yang di peroleh dari subjek/objek lain

E.        Teknik Pengumpulan Data
-          Observasi dengan meneliti kegiatan penyimpangan yang terjadi di lingkungan sekolah.
-          Wawancara, dengan mewawancarai untuk mencari kesimpulan data yang diperoleh dari Guru BK dan Waka Kesiswaan.

F.         Teknik Cuplikan/Pengambilan Sampling
-          Simple random sampling (Sampling acak sederhana) : Pengambilan sampel dengan memberi kesempatan yang sama untuk dipilih bagi setiap individu dalam keseluruhan siswa.
-          Sampling Purposif (Puposive sampling) : Tekhnik penentuan untuk tujuan tertentu saja . Tekhnik ini dibutuhkan untuk mengurangi penyimpangan sosial di wilayah sekolah oleh bantuan Guru BK / Waka kesiswaan.

G.       Validitas Data
Data-data yang diperoleh dari lapangan perlu divalidkan, dalam penelitian ini, peneliti mengunakan teknik informant review atau umpan balik dari informan. Selain itu digunakan pula teknik triangulasi. Penggunaan teknik  triangulasi merupakan strategi untuk mengurangi bias sistematik dalam data. Masing-masing strategi melibatkan pengecekan temuan-temuan terhadap sumber lain. Sehingga triangulasi sebagai proses evaluasi dapat menjaga tuduhan bahwa temuan-temuan penelitian itu menggunakan alat sederhana baik metode, sumber, maupun bias penelitian.
Teknik triangulasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah triangulasi sumber, triangulasi metode, triangulasi teori.[1]Triangulasi sumber, yakni mengumpulkan data sejenis dari beberapa sumber data yang berbeda. Dalam hal ini, untuk memperoleh data tentang trilogi kepemimpinan  Tamansiswa, dikumpulkan dari hasil wawancara dengan kepala sekolah, pamong sosiologi, dan guru mata pelajaran yang lain. Triangulasi metode, yakni mengumpulkan data sejenis dengan menggunakan  teknik pengumpulan data yang berbeda yang dalam hal ini untuk mendapatkan data digunakan beberapa sumber dari hasil wawancara dan observasi. Triangulasi teori untuk menginterpretasikan data yang sejenis, misalnya pelaksanaan sistem among, implementasi trilogi kepemimpinan Ing ngarsa sung tulada, Ing madya mangun karsa, Tutwuri handayani dalam proses pembelajaran.

H. Teknik Analisis Data
Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis interaktif[2]. Dalam model analisis ini, tiga komponen analisanya yaitu reduksi data, sajian data dan penarikan kesimpulan atau verifikasi. Teknik analisis ini dapat dijelaskan sebagai berikut.
1.    Reduksi  Data
Reduksi data dapat diuraikan sebagai proses pemilihan, pemusatan perhatian pada penyederhanaan, pengabstrakan, dan transformasi data ”kasar” yang muncul di lapangan. Dalam pengumpulan data model ini, peneliti selalu membuat reduksi data dan sajian data sampai penyusunan kesimpulan. Artinya data yang didapat di lapangan kemudian disusun pemahaman arti di  segala peristiwa yang disebut reduksi data. Reduksi data dan sajian data ini disusun pada saat peneliti mendapatkan unit data yang diperlukan dalam penelitian. Dengan demikian reduksi data merupakan suatu bentuk analisis yang menajamkan, menggolongkan, mengarahkan, membuang yang tidak perlu, dan mengorganisasi sehingga kesimpulan data finalnya dapat ditarik dan diverifikasi.
2.    Penyajian Data
Penyajian data merupakan alur penting yang kedua dari analisis interaktif. Suatu penyajian, merupakan kumpulan informasi tersusun yang memberikan kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan. Penyajian data dilakukan setelah data telah mengalami proses reduksi data dan diikuti penyusunan data yang berupa cerita yang sistematis. Data yang sudah tersusun secara sistematis, data siap untuk disajikan dan ditarik kesimpulan sebagai hasil dari proses penelitian.
3.    Verifikasi/Penarikan Kesimpulan
Analisis yang ketiga yang penting adalah menarik kesimpulan atau verifikasi. Pengumpulan data terakhir peneliti mulai melakukan usaha menarik kesimpulan dengan menarik verifikasi berdasarkan reduksi data dan sajian data. Kesimpilan yang diambil penelitian harus memberikan kesimpulan secara longgar, terbuka dan skeptis[3]. Jika permasalahan yang diteliti belum terjawab dan atau belum lengkap, maka peneliti harus melengkapi kekurangan tersebut di lapangan terlebih dahulu.
Reduksi data, penyajian data sampai penyajian data aktivitasnya dilakukan dalam bentuk interaktif dengan proses pengumpulan data sebagai suatu proses yang berlanjut, berulang dan terus menerus hingga membentuk sebuah siklus. Dalam proses ini aktivitas peneliti bergerak di
Pengumpulan  Data
Sajian Data
Reduksi Data
Verifikasi/
Penarikan Kesimpulan
antara komponen analisis dengan pengumpulan data selama proses ini masih berlangsung. Selanjutnya peneliti hanya bergerak di antara tiga komponen analisis tersebut. Secara skematis proses analisis interaktif ini dapat digambarkan sebagai berikut.


                                                                                       


Gambar 1. Model Analisis Milles dan Hubberman


Hari/Tanggal


Nilai
Paraf Guru
Komentar balikan






 


³Patton, Michael Quinn, Qualitative Evaluation Methods. London. Sage, 1983, hlm. 24
17Miles. N.B. and Hubermen. Qualitative Data Analisis; A Saurcebook of New Method. Beverly Hills CA Sage Publication, 1984, hlm. 23.





BAB IV­­­­
PEMBAHASAN DAN ANALISIS


A.      PEMBAHASAN
1.       Profil Sekolah
Visi       : membentuk generasi penerus bangsa yang disiplin, terampil, beriman dan bertakwa
Misi        :              
1.    Menumbuhkan kedisplinan segenap warga sekolah, baik siswa, guru, karyawan, dan pemimpin sekolah
2.    Mengembangkan pelajaran bebasis TIK dan menerapkan keunggulan lokal sehingga setiap siswa dapat berkembang secara optimal sesuai dengan potensi yang dimiliki
3.    Mengembangkan kegiatan ekstrakulikuler untuk memberi bekal ketrampilan dan pembentukan watak pribadi yang mandira dan bermutu
4.    Menumbuhkan suasana sekolah yang religius dengan cara menempatkan nilai-nilai agama sebagai sumber kearifan dalam bertindak
5.    Mengembangkan lingkungan sekolah yang bersih, aman, trtib, dan asri

2.       Penguraian Penyimpangan
·      Penjelasan Sederhana
Perilaku menyimpang terjadi karena berlangsungnya proses sosialisasi yang tidak      Sempurna  dan adanya subkebudayaan penyimpangan sosial. Kedua sebab tersebut bisa dijelaskan secara singkat sebagai berikut.
1.   Berklangsungnya proses sosialisasi yang tidak sempurna. Artinya apa yang diajarkan dalam keluarga dan sekolah berbeda dengan apa yang dilihat dan dialami seseorang dalam kehidupan nyata jujur, namun dalam masyarakat ternyata begitu banyak orang berbuat tidak jujur.
2.   Adanya subkebudayaan penyimpanhan sosial. Artinya, seseorang tumbuh dan berkembang dalam lingkungan budaya yang diwarnai oleh subbudaya penyimpangan sosial. Misalnya, seorang anak yang tumbuh dan berkembang dalam lingkungan keluarga/masyarakat preman , potensial melakukan tindakan – tindakan premanisme.
·      Penjelasan Berdasarkan Teori – teori tentang Gejala Perilaku Menyimpang
Teori Biologis
Teori ini pertama kali dikemukakan pada tahun 1876 oleh caesare Lombroso (1835 – 1909). Ia adalah seorang dokter berkebangsaan italia yang berbagai penjara. Lombroso menyatakan, bahwa pelaku kejahatan pada umumnya memiliki ciri – ciri fisik yang berbeda bila dibandingkan dengan orang kebanyakan.
Menurut Lombroso, poara poelaku kejahatan umumnya memiliki cirri fisik : raut muka murung /sedih, rahang dan tulang pipi menonjol, daun telinga menonjol keluar, bulu – bulu yang berlebihan, dan jari – jari yang luar biasa  bisa panjang, sehingga membuat mereka menyerupai nenek moyang manusia (kera). Namun, menurut Charles Buckman Goring , ada kelamahan dalam pendapat Lombroso, yaitu hanya didasarkan pada penelitian dengan sampel yang sangat terbatas.
Lebih lanjut, menurut William Sheldon struktur tubuh berpredeksi  kriminalitas. Ia telah meneliti ratusan oranh berdasarkan tipe tubuh dan penelusuran sejarah kriminalitasnya. Berdasarkan penilitian itu dapat disimpulkan bahwa perilaku menyimpang umumnya terjadi pada orang yang  berotot dan memiliki tubuh atletis.
Kesimpulan tersebut dikuatkan oleh penelitian Sheldon Glueck dan  Eleanor Glueck. Tetapi mereka mengingatkan bahwa tubuh yang kekaritu umumnya merupakan akibat perlakuan/latihan dari orang tua dengan cara yang sangat rendah kerpada orang lain dan memiliki perilaku agresif.
Berbagai penelitian genetis dan sosiobiologi mutakhir terus mencoba mencari kaitan yang masuk akal antara kondisi biologis dan kejahatan. Namun, belum ada temuan yang rinci dan meyakinkan, yang mermbuktikan kaitan antara kondisi biologis dan kejahatan. Hanya, dapat disimpulkan bahwa faktor – faktor biologis bisa menyebabkan orang melakukan tindakan kejahatan.
Teori labeling
Menurut Howard S. Becker tindakan perilaku menyimpang  sesungguhnya tidak ada. Setiap tindakan sebenarnya bersifat “netral” dan “relative”. Artinya, makna tindakan itu relatif tergantung pada sudut pandang orang yang menilainya. Sebuah tindakan disebut perilaku menyimpang karena orang lain/masytarakat memaknai dan menamainya (labeling) sebagai perilaku menyimpang. Jika orang/ masyarakat tidak menyebut sebuah tindakan sebagai perilaku menyimpang, maka perilaku menyimpang itu tidak ada. Penyebutan sebuah tindakan parilaku menyimpang sangat bergantung pada proses deteksi, definisi, dan tanggapan  seseorang terhadap sebuah tindakan.
Sebagai contoh, sekolompok masyarakat disebuah desa difilipina melakukan tindakan sabung ayam sebagian penduduk Filipina tindakan itu ternyata merupakan ritual penting untuk menghayati kehidupan yang jujur. Jadi, proses deteksi, definisi, dan tanggapan seseorang terhadap tindakan sabung ayam akan sangat menentukan penamaan (labeling) tindakan itu, apakah tindakan itu akan disebut perilaku menyimpang ataukah kegiatan ritual.
Bagi Erving Goffman, perilaku menyimpang terjadi karena adanya stigma. Adalah penamaan yang sangat negatif kepada seseorang /kelompok sehingga mampu mengubah secara radikal konsep diri dan identitas social mereka. Adanya stigma akan membuat seseorang atau sebuah kelompok negatif dan diabaikan, sehingga mereka disisihkan secara sosial.
Lebih lanjut, menurut Harold Garfinkel ada kalanya masyarakat secara formal melakukan stigmatisasi melalui tata cara penghinaan (dengan – dation ceremony) .Stigmatisasi ini menjadi orang sakit secara mental (mental illness). Akibat selanjutnya, mereka terus menerus melakukan perilaku menyimpang.
Contoh, stigmatisasi yang pada umumnya dilakukan oleh masyrakat terhadap mantan nara pidana. Masyarakat umumnya menganggap mereka tak bisa menjadi orang baik – baik. Karena itu, umumnya mereka padahal, demikian menurut Thomas Szasz,sesungguhnya para nara pidana itu tidak mengalami sakit mental kalau mereka tidak dikenai stigmatisasi. Sebab, pada dasarnya sakit mental hanyalah sebuah mitos. Tetapi, stigmatisasi telah membuat mereka percaya pada mitos itu. Maka, disini berlaku dalil Thomas szasz, yang menyatakan:” situasi yang dianggap nyata akan benar- benar menjadi nyata” (situations defined as real become real in their consequences).
Teori sosialisasi
Pandangan dasar teori ini adalah bahwa penyimpangan sosial merupakan produk dari proses sosialisasi yang kurang sempurna atau gagal
Menurut Alberet Bandura dan Richard H.Walters misalnya, Anak-anak belajar prilaku menyimpang dengan mengamati dan meniru orang lain yang memiliki prilaku menyimpang. Khusus nya,mereka mengamati dan meniru orang yang dekat dengannya.
Selanjutnya, menurut Deborah M. Capaldi dan Gerald M.peterson, Anak-anak yang agresif umumnya berasal dari keluarga yang orang tuanya terlalu keras atau agresif. Akibatnya, anak kehilangan teladan pngendalian diri dan mungkin menanggapi hukuman dengan meningkatkan agresif. Intinya, perilaku menyimpang di hasilkan oleh proses sosialisasi yang sama dengan perilaku itu.
Sementara itu, menurut Mark S. Gaylord dan john F. galliher serta Edwin Sutherland, orang yang memiliki perilaku menyimpang cenderung  memiliki ikatan dengan orang lain yang memiliki perilaku menyimpang, dimana orang tersebut  mengokohkan Norma-norma dan nilai –nilai yang menyimpang. Perinsipnya, setiap kelompok sosial akan mewariskan nilai-nilai dan Norma-norma kelompoknya kepada anggota –anggota baru.
Kaum mudah pada umumnya sangat terbuka terhadap norma, perilaku, Dan Nilai-nilai yang berasal dari subkultur berbeda, termasuk subkultur perilku menyimpang. Karna itu,menurut Ronald R.Akers  perilaku Teman –teman dekat merupakan sarana yang paling baik untuk memprediksi apakah perilaku seorang anak mudah sesuai dengan norma yang berlaku ataukah perilaku menyimpang
Teori keterangan
Teori ketegangan  ( strain theory) dikemukakan oleh Robert K.Merton. Ia menyatakan bahwa perilaku menyimpang ditentukan oleh seberapa baik sebuah masyarakat mampu menciptakan keselarasan antara aspirasi warga masyarakat (missal, pekerjaan). Jika tidak keselarasan antara anspirasi-anspirasi warga masyarakat dengan ncara-cara legal yang ada, maka akan lahir perilaku menyimpang.
Jadi, perilaku menyimpang merupakan akibat dari adanya ketegangan antara anspirasi apa yang dianggap bernilai oleh warga masyarakat dan cara pencapaian anspirasi yang dianggap sah oleh masyarakat.
Terkait dengan perilaku menyimpang, merton memetakan adanya lima kemungkinan sikap seorang terhadap norma yang ada. Kelima kemungkinan sikap itu adalah : Konformitas (conformity),  inovasi (innovation),ritualisme (ritualism),retreatisme (rewtreatism), dan pemberontakan (rebellion).
Konformitas adalah kesediaan seseorang untuk menyesiaikan diri dengan norma yang ada dalam mewujudkan anspirasi/apa yang dianggap bernilai oleh masyarakat. Contoh, masyarakat menganggap bahwa kesuksesan hidup dicapai melalui kesuksesan materi. Karena itu, seorang yang ingin sukses berusaha mencapai kekayaan materi dengan bekerja keras mengoptimalkan semua potensi yang dimilikinya.
Namun, tidak semua orang memiliki talenta memadai untuk mencapai hidup sukses. Seseorang yang dilahirkan dalam keluarga yang sangat miskin misalnya, merasa tidak mungkin meraih sukses dengan mengikuti norma yang ada. Karena itu, ia mungkin akan berusaha meraih kesuksesan hidup dengan menempuh perilaku menyimpang, misalnya menjadi pengedar narkoba. Merton menyebut hal ini sebagai inovasi, yaitu upaya untuk mewujudkan aspirasi/apa yang dianggap bernilai dengan cara-cara tidak biasa /non –konvensional.
Sementara itu, ada pula warga masyarakat yang merasa memiliki hambatan untuk meraih kesuksesan hidup dengan cara yang sesuai dengan norma yang ada. Namun, ia tak bersedia untuk melanggar norma demi mewujudkan aspirasinya.Ia bersedia mengorbankan aspirasinya demi ketaatan kepada norma yang ada. Warga yang demikian, oleh Merton disebut bersikap litualisme.Menurut merton, hal ini sering terjadi dikalangan birokrat rendahan.
Disisi lain adapula warga masyarakat yang merasa memiliki hambatan untuk meraih kesuksesan hidup dengan cara yang sesuai dengan norma yang ada. Ia juga tak bersedia untuk melanggar norma demi mewujudka aspirasinya. Namun, ia bersikap menolak aspirasi/apa yang dianggap bernilai  norma yang ada dengan “menarik diri” dari masyarakat dengan berperilaku apatis terhadap keadaan atau melarikan diri dalam kebiasaan mengkonsumsi minuman  keras dan perilaku menyimpang lainnya. Warga yang bersikap demikian, oleh Merton disebut retreatisme.
Bentuk perilaku menyimpang yang keempat disebut pemberontakan. Seperti retreatisme ,pemberontakan menolak pandangan masyarakat mengenai apa yang dianggap bernilai dan juga norma-norma yang berlaku untuk mewujudkannya. Namun, Ia bukannya menarik diri dari masyarakat dan budaya  yang berlaku, melainkan berusaha secara radikal untuk  menggantikan nilai dan norma yang ada dengan nilai dan norma yang sama sekali baru. Pemberontakan politik atau keagamaan  umumnya termasuk kategori ini.
Teori Diforganisasi Sosial
Komsep tentang disorganisasi sosial di dasarkan pada karya  wilyam  l. Thomas dan florian znaneicki  serta karya Clifford Shaw dan henry McKay. Istilah di sorganisasikan sosail mengacu pada penjelasan mengenai perilaku menyimpang dan kondisi masyarakat yang menyebabkannya.
Menurut teori ini perilaku menyimpang merupakan produk dari perkembangan masyarakat yang tak seimbang. Di dalam terjadi perubahan dan konflik yang berdampak pada prilaku masrayakat.
Teori ini menekankan bahwa masyarakat teorganisasi bila anggota masyarakat membangun kesepakatan mengenai nilai dan norma funda mental sebangai dasar tindakan bersama. Organisasi sosial atau sosial terwujud ketika ada ikatan yang kuat di antara Indifudu-indufidu. Dan lembaga-lembaga dalam masyarakat. Ikatan ini  mengikuti ke sepakatan luas mengenai tujuan yang di hargai dan di perjuangkan . Dengan demikian, di sorganisasi sosial adalah kekacauan sosial .
Teori di sorganisasi sosial percaya , bahwa di sorganisasi sosial terjadi di sebagian besar kehidupan kota. Masyarakat kota di jadikan laboratorium studi mengenai prilaku menyimpang dan kejahatan penganut teori ini memusat penelitian pada di sorganisasi di wilaya lokal, Tempat-tempat kumuh atau pusat kota yang banyak terjadi kejahatan trostitusi, Bunih diri, dan berbangai bentuk, prilaku menyimpang lainnya.
Dalam pandangan teori ini , pola lingkungan kehidupan kota melahirkan disorganisasi sosial, yang mengakibatkan terjadinya prilaku menyimpang dan kejahatan.
Teori anomi
 Emile Durkheim,sosiolog dari prancis, memperkenalkan pada anomi (anomie) dalam karyanya yang terkenal The tahun 1893. Ia menggunakan konsep anomi untuk mendeskripsikan kondisi tanpa norma yang terjadi dalam masyarakat. Anomi berarti runtuhnya norma mengenai bagaimana masyarakat seharusnya bersikap terhadap yang lain. Masyarakat tidak tahu lagi apa yang bisa diharapkan dari orang lain. Kondsi itu, menurut Durkheim, akan melahirkan perilaku menyimpang.
Pada tahun 1897, Durkheim menggunakan kembali istilah anomi dalam penelitiannya mengenai bunuh diri (suicide) , yang mengacu pada kondisi tanpa norma moral. Disini Durkheim tertarik dengan dampak
Teori Konflik
Menurut teori ini, perilaku menyimpang merupakan akibat dari ketidaksamaan dalam masyarakat. Teori ini menekankan bahwa seseorang atau perbuatan yang disebut perilaku menyimpang tergantung pada kekuasaan relative dari kelompok masyarakat.
Alexander Liazos (1972) mencatat bahwa konsep umum mengenai perilaku menyimpang misalnya orang gila, pelacur, gelandangan menunjuk pada masyarakat yang tidak memiliki kekuasaan. Mereka diberi stigma sebagai pelaku perilaku menyimpang.
Menurut teori konflik, gejala perilaku menyimpang terkait dengan praktik kekuasaan yang tidak adil. Hal itu tampak dalam ketiga hal berikut.
ü  Norma-norma khususnya norma hukum dari setiap masyarakat pada umumnya menguntungkan mereka yang kaya dan berkuasa.Karl Marx mengatakan bahwa hukum (bersama dengan lembaga sosial yang lain) cenderung mendukung kepentingan kaum kaya. Senada dengan Marx, Richard Quinney menyatakan bahwa keadilan kapitalis dilakukan oleh kelas kapitalis, untuk melawan kelas buruh.
ü  Jika perilaku kaum kaya dan berkuasa dipersoalkan, mereka memiliki berbagai sarana untuk menolak sebutan sebagai pelaku perilaku menyimpang. Berbagai kasus hukum di Indonesia dengan sangat jelas menunjukkan hal ini. Seorang tukang becak yang baru pertama kali mencuri uang Rp. 5.000,00 akan segera dipukuli massa dan dianggap sebagai pencuri. Sementara itu pelaku korupsi milyaran bisa melenggang dengan gembira.
ü  Norma-norma dan hukum merupakan topeng yang sangat baik untuk menutupi berbagai perilaku curang kaum kaya dan berkuasa. Banyak orang mengutuk penerapan hokum yang sering tidak sama. Namun, mereka tidak memperhatikan bahwa sesungguhnya aturan hukum itu sendiri tidak adil. Karena itu, aturan hukum sering kali merupakan topeng bagi kejahatan yang dilakukan oleh mereka yang kaya dan berkuasa.


B.       ANALISIS
1.  Faktor yang menyebabkan Perilaku Menyimpang
·           Perbedaan status (kesenjangan) sosial antara si kaya dan si miskin yang sangat mencolok mengakibatkan timbulnya rasa iri dan dengki sehingga terjadilah pencurian dan saling ejek.
·           Ketidaksanggupan menyerap norma-norma kebudayaan. Karena ketidaksanggupan menyerap norma-norma kebudayaan kedalam kepribadiannya maka seorang individu tidak mampu membedakan perilaku yang pantas dan perilaku yang tidak pantas bagi masyarakat di sekitarnya.
·           Sikap mental yang tidak sehat membuat orang tidak pernah merasa bersalah atau menyesali perilakunya yang dianggap menyimpang.
·           Kriminolog Italia Cesare Lombroso berpendapat bahwa orang jahat dicirikan dengan ukuran rahang dan tulang-tulang pipi panjang, kelainan pada mata yang khas, tangan-tangan, jari-jari kaki serta tangan relatif besar, dan susunan gigi yang abnormal.
·           Proses belajar yang menyimpang. Seseorang yang melakukan tindakan menyimpang karena seringnya membaca atau melihat tayangan tentang perilaku menyimpang. Hal itu dapat membuat seseorang ingin meniru tokoh yang ada di tayangan tersebut walaupun itu adalah termasuk perilaku menyimpang.
·           Penyimpangan karena hasil proses sosialisasi subkebudayaan menyimpang. Subkebudayaan adalah suatu kebudayaan khusus yang normanya bertentangan dengan norma-norma budaya yang dominan. Unsur budaya menyimpang meliputi perilaku dan nilai-nilai yang dimiliki oleh anggota-anggota kelompok yang bertentangan dengan tata tertib masyarakat.
·           Lingkungan pergaulan sangat mempengaruhi perkembangan sikap dan perilaku seseorang. Biasanya orang akan mengikuti dan beradaptasi dengan lingkungan pergaulannya walaupun itu sudah termasuk perilaku menyimpang.
·           Ketegangan antara kebudayaan dan struktur sosial. Terjadinya ketegangan antara kebudayaan dan struktur sosial dapat mengakibatkan perilaku yang menyimpang. Hal itu terjadi jika dalam upaya mencapai suatu tujuan seseorang tidak memperoleh peluang, sehingga ia mengupayakan peluang itu sendiri, maka terjadilah perilaku menyimpang.
·           Banyaknya pemuda yang putus sekolah menyebabkan hilangnya kesempatan untuk mencari kerja. Akibatnya mereka harus menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang walaupun itu termasuk perilaku menyimpang seperti mengemis atau mencuri.
·           Ikatan sosial yang berlainan. Setiap orang biasanya berhubungan dengan beberapa kelompok yang berbeda. Hubungan dengan kelompok-kelompok tersebut akan cenderung membuatnya mengidentifikasi diri dengan kelompokyang paling dihargainya. Dalam hubungan ini individu akan memperoleh pola-pola sikap dari perilaku kelopoknya. Jika perlaku kelompok tersebut menyimpang maka kemungkinan besar ia juga akan menunjukkan pola-pola perilaku menyimpang.
·           Ketidakharmonisan keluarga memicu stres terutama pada anak remaja. Mereka menjadi semakin labil karena tidak mendapat perhatian dari orangtuanya.
·           Mencari perhatian juga menjadi sebab terjadinya perilaku menyimpang. Kemungkinan itu disebabkan oleh kurangnya perhatian dari orangtua dan gurunya sehingga dia selalu berusaha untuk mendapatkan perhatian dari orang lain walaupun itu menyimpang.
·           Dorongan ekonomi biasanya menjadi faktor utama untuk melakukan suatu perilaku menyimpang. Contoh adalah seperti orang yang mencuri karena terdesak dengan kebutuhan pokoknya yang tidak terpenuhi.
·           Kegagalan dalam proses sosialisasi. Keluarga inti maupun keluarga luas bertanggung jawab terhadap penanaman nilai dan norma pada anak. Kegagalan proses pendidikan dalam keluarga menyebabkan terjadinya penyimpangan.
·           Labelling. Faktor pelabelan pertama kali di ungkapkan oleh Edwin M. Lemert dalam teori pelabelan. Menurutnya seseorang melakukan perilaku menyimpang diberi cap (label negatif) oleh masyarakat.

2.  bentuk perilaku menyimpang siswa SMAN 3 TEGAL di lingkungan sekolah ?

Di pagi hari ketika bel masuk sudah berbunyi, hampir setiap hari masih banyak siswa yang belum sampai di sekolah, dengan kata lain banyak siswa yang terlambat. Sehingga tempat parkiran terlihat berantakan karena siswa yang terlambat tersebut meletakkan kendaraanya dari arah berlawanan jadi siswa tersebut hanya sembarangan meletakkan.
Ketika KBM berlangsung, banyak siswa yang berkeliaran terutama pada saat jam pelajaran kosong. Adapula siswa yang tanpa sepengetahuan guru menggunakan ponsel, dan menyalahgunakan laptop untuk membuka situs yang kurang penting. Hal ini menyebabkan banyak siswa yang tidak mengerjakan tugas karena siswa tersebut tidak memperhatikan penjelasan yang disampaikan oleh guru. Pada saat jam pelajaran terakhir adalah jam kosong, siswa berkeliaran pulang sebelum bel pulang berbunyi.
Saat upacara berlangsung, beberapa siswa atau peserta upacara tidak hidmat dalam mengikuti upacara bendera yang sedang berlangsung. Sehingga menyebabkan keributan saat pembina upacara berbicara. Adapula beberapa siswa yang terlihat tidak menggunakan atribut upacara lengkap, seperti dasi maupun topi.
Penyimpangan lain yang terjadi ada hubungannya dengan kedisiplinan. Misalnya, sebagian siswa laki-laki berpakaian kurang rapi dari mulai pakaian yang keluar, rambut yang memanjang dan sepatu yang berwarna selain hitam. Dan jika diperhatikan lebih banyak siswa yang lebih memilih berduduk duduk santai di kantin atau diteras kelas dibandingkan pergi membaca di perpustakaan. Dari mushola juga bisa dilihat, bahwa alat sholat terlihat kurang rapi atau berantakan dikarenakan banyak siswi yang tidak merapikan kembali mukenah yang telah digunakan.













BAB V
PENUTUP

A.      KESIMPULAN
Dari hasil pengamatan yang telah di lakukan, kami menyimpulkan bahwa hampir semua siswa di SMA Negeri 3 Tegal pernah melakukan penyimpangan baik yang bersifat sederhana maupun bersifat berlebihan atau keterlaluan. Dalam hal ini guru ikut berperan penting untuk membantu siswa mengendalikan penyimpangan yang terjadi di sekolah dengan memberikan bimbingan konseling maupun melaui bantuan bimbingan orang tua, sehingga dapat mengurangi gangguan serta dampak negatif yang suatu saat akan menimbukan dampak negatif  dan merugikan diri sendiri maupun orang lain.
B.      SARAN
Sangat diharapkan kepada siswa siswi SMA Negeri 3 Tegal untuk mematuhi peraturan yang berlaku, sehingga dapat mewujudkan lingkungan sekolah yang aman dan damai.
Saran selanjutnya diberikan kepada guru BK untuk lebih tegas lagi memberi hukuman terhadap siswa – siswi yang melanggar tata tertib sekolah. Dengan demikian siswa menjadu lebih segan terhadap peraturan sekolah.
Yang terakhir diberikan kepada pembaca, agar lebih meatuhi tata tertib yang ada, dan tidak segan-segan untuk menegur siswa/siswi yang melanggar tata tertib dan atau berperilaku kurang sopan.









[1]Moleong. op.cit. hlm. 330.




²Miles dan Huberman, 1984.
.


 BAB I
PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang Masalah
Pada dasarnya banyak sekali perilaku menyimpang terjadi di sekitar kita, apalagi di masyarakat dan lingkungannya, sampai mengakibatkan sebuah atau banyak masalah karena penyimpangan yang mereka buat. Banyak sekali kejadian-kejadian penyimpangan social yang sering kita lihat.
Beberapa contoh penyimpangan sosisal yang terjadi di masyarakat yaitu perampokan, pencurian, tawuran, pelecehan seksual dan dan banyak lagi yang sering kita dengar di media lain
Penyimpangan yang terjadi ketika di teliti juga pasti bermacam-macam penyebebnya, entah itu masuk akal maupun hanya di buat-buat. Diamati sekali tahun demi tahun banyak sekali penyimpangan sosial baru yang terjadi di masyarakat, lingkungan keluarga, lingkungan bermain, bahkan di sekolah-sekolah menengah atas, di beberapa kota juga sering diberitakan adanya penyimpangan sosial
Seperti halnya sekolah menengah atas lainnya, di SMA N 3 TEGAL juga banyak sekali siswa-siswi yang melakukan tindakan-tindakan yang menyimpang, mungkin saja itu terjadi karena linkungan di luar sekolah yang kurang baik
Banyak sekali siswa yang membolos, terlambat datang ke sekolah, merokok diam-diam di kamar mandi pada saat jam istirahat maupun jam pelajaran berlangsung, berkelahi dengan teman sepermainan entah itu dilakukan di dalam sekolah maupun di luar sekolah, berpakaian tidak rapih, rambut berantakan dan lainnya. Bagi beberapa siswa mungkin menganggap sekolah hanya sebagai tittle. Itu semua merupakan beberapa contoh penyimpangan yang terjadi di SMAN 3 TEGAL.

B.      Identifikasi Masalah
1.      Di masyarakat banyak sekali penyimpangan sosial yang terjadi
2.      Di SMAN 3 TEGAL juga banyak sekali siswa yang melanggar peraturan
3.      Masih banyak sekali siswa yang membolos, dating terlambat, bergaul bebas, dan merokok di lingkungan sekolah
4.      Banyak juga yang akhirnya mengakibatkan suatu masalah untuk merekabaik di dalam maupun diluar sekolah





C.      Rumusan Masalah
1.      Apa bentuk perilaku menyimpang siswa SMAN 3 TEGAL di lingkungan sekolah ?
2.      Apa faktor yang menyebkan terjadinya perilaku menyimpang ?

D.      Tujuan Penelitian
1.      Mengetahui bentuk perilaku menyimpang di SMAN 3 TEGAL
2.      Mengetahui faktor penyebab terjadinya perilaku menyimpang yang di lakuakan oleh siswa-siswi di SMAN 3 TEGAL

E.      Manfaat Penelitian
1.      Manfaat bagi peneliti
-          Menambah wawasan
-          Melatih cara berfikir secara ilmiah
2.      Manfaat bagi sekolah
-          Sebagai bahan represi masukan untuk peraturan yang lebih baik





















BAB II
KAJIAN TEORI DAN KERANGKA KERJA PIKIR

A.     Kajian Teori
·         Pengertian Penyimpangan Sosial
Perilaku penyimpangan (deviasi sosial) sebagai suatu bentuk perilaku yang tidak sesuai, melanggar, atau menyimpang dari nilai-nilai dan norma-norma sosial yang ada dalam masyarakat. Sehingga perilaku menyimpang dapat terjadi di mana saja, baik di keluarga maupun di masyarakat. Dengan perkataan lain, penyimpangan sosial (deviasi sosial) adalah semua tindakan yang tidak berhasil menyesuaikan diri (comformity) terhadap kehendak masyarakat.

·         Teori-teori Penyimpangan Sosial
Teori Differential Association. Teori ini mengatakan bahwa penyimpangan sosial bersumber pada pergaulan yang berbeda dan terjadi melalui proses alih budaya.
Teori Labeling. Pandangan teori ini, seseorang melakukan perilaku menyimpang karena proses Labeling, pemberian julukan, cap, etiket dan merek yang diberikan masyarakat secara menyimpang sehingga menyebabkan seseorang melakukan penyimpangan sosial sesuai dengan label yang diberikan.
Teori Merton (R. Merton). Teori penyimpangan ini bersumber dari struktur sosial sehingga terjadinya perilaku menyimpang itu sebagai bentuk adaptasi terhadap situasi tertentu.
Teori Fungsi (Durkheim). Bahwa kesadaran moral semua anggota masyarakat tidak mungkin terjadi karena setiap orang berbeda satu sama lainnya tergantung faktor keturunan, lingkungan fisik dan lingkungan sosial. Menurut Durkheim kejahatan itu perlu, agar moralitas dan hukum itu berkembang secara formal.
Teori konflik (Karl Marx). Menurut teori ini mengatakan bahwa perilaku menyimpang hanya dalam pandangan kelas yang berkuasa untuk melindungi kepentingan mereka. Jadi, karena ada kelas atas yang selalu menindas kelas bawah akan menimbulkan pertentangan dan menjadikan tindakan menyimpang.




B.      Faktor-faktor penyimpangan sosial
Tidak dipungkiri bahwa setiap tindakan manusia ada sebabnya, atau sering dikatakan hokum sebab-akibat, begitu juga dengan perilaku menyimpang. Perilaku menyimpang disebabkan oleh beberapa faktor sebagai berikut:
·         Pertentangan antara norma kelompok dengan norma masyarakat
·         Tidak mempunyai seseorang sebagai panutan dalam memahami dan meresapi tata nilai atau norma-norma yang berlaku di masyarakat.
·         Pengaruh lingkungan kehidupan sosial yang tidak baik.
·         Pertentangan antar agen sosialisasi
·         Pengaruh fisik dan jiwa seseorang.
·         Proses bersosialisasi yang negatif.
·         Ketidakadilan.

C.      Bentuk-bentuk penyimpangan sosial
Penyimpangan dalam masyarakat sering terjadi dan memiliki bentuk-bentuk tersendiri seperti penyimpangan yang dilakukan oleh individu, kelompok, campuran. Penyimpangan tersebut ada yang bisa diterima, ada pula yang tidak diterima oleh masyarakat karena ada penyimpangan yang dianggap positif oleh masyarakat. lebih lanjut, berikut bentuk penyimpangan dalam masyarakat:
  • Berdasarkan kadar penyimpangan.
Menurut Lemert (1951), Penyimpangan dibagi menjadi dua bentuk:
1.      Penyimpangan Primer (Primary Deviation). Penyimpangan yang dilakukan seseorang akan tetapi si pelaku masih dapat diterima masyarakat. Ciri penyimpangan ini bersifat temporer atau sementara, tidak dilakukan secara berulang-ulang dan masih dapat ditolerir oleh masyarakat. Contohnya: menunggak iuran listrik, telepon, melanggar rambu-rambu lalu lintas dll.
2.      Penyimpangan Sekunder (secondary deviation) Penyimpangan yang berupa perbuatan yang dilakukan seseorang yang secara umum dikenal sebagai perilaku menyimpang. Pelaku didominasi oleh tindakan menyimpang tersebut, karena merupakan tindakan pengulangan dari penyimpangan sebelumnya. Penyimpangan ini tidak bisa ditolerir oleh masyarakat. Penyimpangan jenis ini sangat merugikan orang lain, sehingga pelakunya dapat dikenai sanksi hukum atau pidana. Contohnya: pemabuk, pengguna obat-obatan terlarang, pemerkosaan, pelacuran, pembunuhan, perampokan, perjudian.
  • Berdasarkan pelaku penyimpangan
1.      Penyimpangan individu (individual deviation). Penyimpangan jenis ini dilakukan secara perorangan tanpa campur tangan orang lain dan berupa pelanggaran terhadap norma-norma suatu kebudayaan yang telah mapan. contohnya: tidak patuh pada perintah orang tua (Pembandel), tidak taat pada orang berwenang seperti RW atau guru (pembangkang), menerobos lampu merah (pelanggar), pencopet di pasar (perusuh atau penjahat).
2.      Penyimpangan kelompok (individual deviation). Penyimpangan yang dilakukan secara bersama-sama atau secara berkelompok dengan melanggar norma-norma yang berlaku dalam masyarakat. Penyimpangan yang dilakukan kelompok, umumnya sebagai akibat pengaruh pergaulan/teman. penyimpangan kelompok biasanya lebih sulit dikendalikan karena mereka patuh pada aturan kelompoknya dan fanatik sehingga lebih berbahaya dari penyimpangan individu. contohnya: tawuran pelajar, kenakalan remaja, penyimpangan kebudayaan, pemberontakan, perkelahian antar suku, agama, dan antar geng.
3.      Penyimpangan campuran (mixture of both deviation) Penyimpangan ini diawali oleh individu, selanjutnya memengaruhi orang lain agar ikut dalam penyimpangan. Dalam hal ini, orang yang terpengaruh akan mengikuti jejak para propokatornya. contohnya: demonstrasi damai berubah menjadi anarkis ketika salah satu demonstran melakukan penyimpangan, pemalsuan uang, dan pengedaran narkoba.

  • Berdasarkan sifat penyimpangan
1.      Penyimpangan positif. Penyimpangan atau perilaku yang melanggar atau tidak sesuai dengan nilai dan norma dalam masyarakat, tetapi memiliki dampak positif bagi dirinya atau masyarakat karena memberikan unsur kreatif dan inovatif. contohnya: dahulu istri (perempuan) tidak boleh kerja di luar atau mengerjakan pekerjaan lelaki seperti jadi sopir taksi, akan tetapi karena suami (laki-laki) tidak mampu lagi bekerja sehingga istri lah yang bekerja.
2.      Penyimpangan negatif. Penyimpangan ini bersifat negatif karena tindakannya cenderung merugikan dirinya, masyarakat, menghancurkan barang atau benda, bahkan menimbulkan korban. contohnya: korupsi, pencurian, demonstrasi anarkis, dan pembunuhan.

D.     Beberapa penyimpangan sosial dalam masyarakat
Nilai dan norma dibuat masyarakat untuk mengatur kehidupannya yang tertib dan tentram. Tapi tak jarang nilai dan norma tersebut dilanggar seseorang dan ini lah yang dinamakan tindakan menyimpang atau penyimpangan sosial. Dalam masyarakat terdapat beberapa pelanggaran terhadap nilai dan norma yaitu sebagai berikut:
1.      Penyalahgunaan narkotika a) Heroin b) Ganja c) Ekstasi d) Shabu-shabu
2.      Kenakalan remaja a) Bolos sekolah b) Tawuran c) Ugal-ugalan di jalan raya
3.      Minuman keras (alkoholisme)
4.      Pelacuran
5.      Penyimpangan seksual a) Lesbian dan homoseksual b) Sodomi c) Perzinahan (sek diluar nikah) d) Kumpul kebo
6.      Tindakan kejahatan a) Pembunuhan b) Pencurian c) Perampokan d) Pemerkosaan
7.      Gaya hidup a) Sikap arogansi b) Sikap eksentrik (sikap yang aneh dari lainnya seperti anak funk)
E.       Dampak Penyimpangan Sosial
Setelah dilakukan perilaku menyimpang akan bedampak pada pelaku penyimpangan dan juga bagi masyarakat sekitarnya. Berikut dampak dari penyimpangan sosial:
·         Dampak terhadap diri sendiri
1.      Dikucilkan masyarakat atau mencelakakan dirinya sendiri
2.      Terganggunya perkembangan jiwa
3.      Dapat mengahncurkan masa depan
4.      Dapat menjauhkan diri pada tuhan
·         Dampak terhadap masyarakat
1.      Terganggunya keseimbangan sosial
2.      Pudarnya nilai dan norma
3.      Merusak unsur-unsur budaya
4.      Kriminalitas

·         Dampak positif
1.      Menumbuhkan kesatuan masyarakat
2.      Memperkokoh nilai-nilai dan norma dalam masyarakat
3.      Memperjelas batas moral
4.      Mendorong terjadinya perubahan sosial
F.       Upaya Pencegahan dan Mengatasi Penyimpangan social

Banyak upaya yang mampu mencegah, mengantisivasi, dan mengatasi penyimpangan sosial dalam masyarakat. Berikut ini upaya pencegahan dan mengatasi penyimpangan sosial:
·         Penanaman nilai dan norma terhadap anak
·         Penanaman nilai-nilai ketuhanan
·         Pelaksanaan peraturan tidak memihak dan tegas
·         Pembentukan kepribadian yang kuat
·         Melaksanakan penyuluhan-penyuluhan dan rehabilitasi
·         Mengembangkan kegiatan-kegiatan positif
·         Mengembangkan kerukunan antar warga masyarakat
























BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A.       Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian adalah tempat dilakukannya penelitian. Penelitian ini dilaksanakan di sekolah yaitu di SMA N 3 TEGAL.
B.        Waktu Penelitian
Waktu penelitian dilakukan pada:
-    Februari sampai maret proses pembuatan rancangan penelitian .
-    Maret sampai April proses dilakukannya penelitian.
-    Mei proses pembuatan laporan penelitian.
C.        Bentuk Penelitian
-          Penelitian deskriptif yaitu penelitian yang melukiskan dan melaporkan suatu keadaan, objek atau peristiwa secara apa adanya berupa fakta
-          Penelitian Inferensial yaitu penelitian yang mampu menarik kesimpulan umum atas masalah yang sedang diteliti
D.       Sumber Data
-          Tempat, yaitu tempat di laksanakannya aktifitas penelitian
-          Aktifitas, kegiatan melakukan penelitian
-          Informan, objek tempat mememperoleh data
-          Dokumen, sumber data yang di peroleh dari subjek/objek lain

E.        Teknik Pengumpulan Data
-          Observasi dengan meneliti kegiatan penyimpangan yang terjadi di lingkungan sekolah.
-          Wawancara, dengan mewawancarai untuk mencari kesimpulan data yang diperoleh dari Guru BK dan Waka Kesiswaan.

F.         Teknik Cuplikan/Pengambilan Sampling
-          Simple random sampling (Sampling acak sederhana) : Pengambilan sampel dengan memberi kesempatan yang sama untuk dipilih bagi setiap individu dalam keseluruhan siswa.
-          Sampling Purposif (Puposive sampling) : Tekhnik penentuan untuk tujuan tertentu saja . Tekhnik ini dibutuhkan untuk mengurangi penyimpangan sosial di wilayah sekolah oleh bantuan Guru BK / Waka kesiswaan.

G.       Validitas Data
Data-data yang diperoleh dari lapangan perlu divalidkan, dalam penelitian ini, peneliti mengunakan teknik informant review atau umpan balik dari informan. Selain itu digunakan pula teknik triangulasi. Penggunaan teknik  triangulasi merupakan strategi untuk mengurangi bias sistematik dalam data. Masing-masing strategi melibatkan pengecekan temuan-temuan terhadap sumber lain. Sehingga triangulasi sebagai proses evaluasi dapat menjaga tuduhan bahwa temuan-temuan penelitian itu menggunakan alat sederhana baik metode, sumber, maupun bias penelitian.
Teknik triangulasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah triangulasi sumber, triangulasi metode, triangulasi teori.[1]Triangulasi sumber, yakni mengumpulkan data sejenis dari beberapa sumber data yang berbeda. Dalam hal ini, untuk memperoleh data tentang trilogi kepemimpinan  Tamansiswa, dikumpulkan dari hasil wawancara dengan kepala sekolah, pamong sosiologi, dan guru mata pelajaran yang lain. Triangulasi metode, yakni mengumpulkan data sejenis dengan menggunakan  teknik pengumpulan data yang berbeda yang dalam hal ini untuk mendapatkan data digunakan beberapa sumber dari hasil wawancara dan observasi. Triangulasi teori untuk menginterpretasikan data yang sejenis, misalnya pelaksanaan sistem among, implementasi trilogi kepemimpinan Ing ngarsa sung tulada, Ing madya mangun karsa, Tutwuri handayani dalam proses pembelajaran.

H. Teknik Analisis Data
Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis interaktif[2]. Dalam model analisis ini, tiga komponen analisanya yaitu reduksi data, sajian data dan penarikan kesimpulan atau verifikasi. Teknik analisis ini dapat dijelaskan sebagai berikut.
1.    Reduksi  Data
Reduksi data dapat diuraikan sebagai proses pemilihan, pemusatan perhatian pada penyederhanaan, pengabstrakan, dan transformasi data ”kasar” yang muncul di lapangan. Dalam pengumpulan data model ini, peneliti selalu membuat reduksi data dan sajian data sampai penyusunan kesimpulan. Artinya data yang didapat di lapangan kemudian disusun pemahaman arti di  segala peristiwa yang disebut reduksi data. Reduksi data dan sajian data ini disusun pada saat peneliti mendapatkan unit data yang diperlukan dalam penelitian. Dengan demikian reduksi data merupakan suatu bentuk analisis yang menajamkan, menggolongkan, mengarahkan, membuang yang tidak perlu, dan mengorganisasi sehingga kesimpulan data finalnya dapat ditarik dan diverifikasi.
2.    Penyajian Data
Penyajian data merupakan alur penting yang kedua dari analisis interaktif. Suatu penyajian, merupakan kumpulan informasi tersusun yang memberikan kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan. Penyajian data dilakukan setelah data telah mengalami proses reduksi data dan diikuti penyusunan data yang berupa cerita yang sistematis. Data yang sudah tersusun secara sistematis, data siap untuk disajikan dan ditarik kesimpulan sebagai hasil dari proses penelitian.
3.    Verifikasi/Penarikan Kesimpulan
Analisis yang ketiga yang penting adalah menarik kesimpulan atau verifikasi. Pengumpulan data terakhir peneliti mulai melakukan usaha menarik kesimpulan dengan menarik verifikasi berdasarkan reduksi data dan sajian data. Kesimpilan yang diambil penelitian harus memberikan kesimpulan secara longgar, terbuka dan skeptis[3]. Jika permasalahan yang diteliti belum terjawab dan atau belum lengkap, maka peneliti harus melengkapi kekurangan tersebut di lapangan terlebih dahulu.
Reduksi data, penyajian data sampai penyajian data aktivitasnya dilakukan dalam bentuk interaktif dengan proses pengumpulan data sebagai suatu proses yang berlanjut, berulang dan terus menerus hingga membentuk sebuah siklus. Dalam proses ini aktivitas peneliti bergerak di
Pengumpulan  Data
Sajian Data
Reduksi Data
Verifikasi/
Penarikan Kesimpulan
antara komponen analisis dengan pengumpulan data selama proses ini masih berlangsung. Selanjutnya peneliti hanya bergerak di antara tiga komponen analisis tersebut. Secara skematis proses analisis interaktif ini dapat digambarkan sebagai berikut.


                                                                                       


Gambar 1. Model Analisis Milles dan Hubberman


Hari/Tanggal


Nilai
Paraf Guru
Komentar balikan






 

³Patton, Michael Quinn, Qualitative Evaluation Methods. London. Sage, 1983, hlm. 24
17Miles. N.B. and Hubermen. Qualitative Data Analisis; A Saurcebook of New Method. Beverly Hills CA Sage Publication, 1984, hlm. 23.




BAB IV­­­­
PEMBAHASAN DAN ANALISIS


A.      PEMBAHASAN
1.       Profil Sekolah
Visi       : membentuk generasi penerus bangsa yang disiplin, terampil, beriman dan bertakwa
Misi        :              
1.    Menumbuhkan kedisplinan segenap warga sekolah, baik siswa, guru, karyawan, dan pemimpin sekolah
2.    Mengembangkan pelajaran bebasis TIK dan menerapkan keunggulan lokal sehingga setiap siswa dapat berkembang secara optimal sesuai dengan potensi yang dimiliki
3.    Mengembangkan kegiatan ekstrakulikuler untuk memberi bekal ketrampilan dan pembentukan watak pribadi yang mandira dan bermutu
4.    Menumbuhkan suasana sekolah yang religius dengan cara menempatkan nilai-nilai agama sebagai sumber kearifan dalam bertindak
5.    Mengembangkan lingkungan sekolah yang bersih, aman, trtib, dan asri

2.       Penguraian Penyimpangan
·      Penjelasan Sederhana
Perilaku menyimpang terjadi karena berlangsungnya proses sosialisasi yang tidak      Sempurna  dan adanya subkebudayaan penyimpangan sosial. Kedua sebab tersebut bisa dijelaskan secara singkat sebagai berikut.
1.   Berklangsungnya proses sosialisasi yang tidak sempurna. Artinya apa yang diajarkan dalam keluarga dan sekolah berbeda dengan apa yang dilihat dan dialami seseorang dalam kehidupan nyata jujur, namun dalam masyarakat ternyata begitu banyak orang berbuat tidak jujur.
2.   Adanya subkebudayaan penyimpanhan sosial. Artinya, seseorang tumbuh dan berkembang dalam lingkungan budaya yang diwarnai oleh subbudaya penyimpangan sosial. Misalnya, seorang anak yang tumbuh dan berkembang dalam lingkungan keluarga/masyarakat preman , potensial melakukan tindakan – tindakan premanisme.
·      Penjelasan Berdasarkan Teori – teori tentang Gejala Perilaku Menyimpang
Teori Biologis
Teori ini pertama kali dikemukakan pada tahun 1876 oleh caesare Lombroso (1835 – 1909). Ia adalah seorang dokter berkebangsaan italia yang berbagai penjara. Lombroso menyatakan, bahwa pelaku kejahatan pada umumnya memiliki ciri – ciri fisik yang berbeda bila dibandingkan dengan orang kebanyakan.
Menurut Lombroso, poara poelaku kejahatan umumnya memiliki cirri fisik : raut muka murung /sedih, rahang dan tulang pipi menonjol, daun telinga menonjol keluar, bulu – bulu yang berlebihan, dan jari – jari yang luar biasa  bisa panjang, sehingga membuat mereka menyerupai nenek moyang manusia (kera). Namun, menurut Charles Buckman Goring , ada kelamahan dalam pendapat Lombroso, yaitu hanya didasarkan pada penelitian dengan sampel yang sangat terbatas.
Lebih lanjut, menurut William Sheldon struktur tubuh berpredeksi  kriminalitas. Ia telah meneliti ratusan oranh berdasarkan tipe tubuh dan penelusuran sejarah kriminalitasnya. Berdasarkan penilitian itu dapat disimpulkan bahwa perilaku menyimpang umumnya terjadi pada orang yang  berotot dan memiliki tubuh atletis.
Kesimpulan tersebut dikuatkan oleh penelitian Sheldon Glueck dan  Eleanor Glueck. Tetapi mereka mengingatkan bahwa tubuh yang kekaritu umumnya merupakan akibat perlakuan/latihan dari orang tua dengan cara yang sangat rendah kerpada orang lain dan memiliki perilaku agresif.
Berbagai penelitian genetis dan sosiobiologi mutakhir terus mencoba mencari kaitan yang masuk akal antara kondisi biologis dan kejahatan. Namun, belum ada temuan yang rinci dan meyakinkan, yang mermbuktikan kaitan antara kondisi biologis dan kejahatan. Hanya, dapat disimpulkan bahwa faktor – faktor biologis bisa menyebabkan orang melakukan tindakan kejahatan.
Teori labeling
Menurut Howard S. Becker tindakan perilaku menyimpang  sesungguhnya tidak ada. Setiap tindakan sebenarnya bersifat “netral” dan “relative”. Artinya, makna tindakan itu relatif tergantung pada sudut pandang orang yang menilainya. Sebuah tindakan disebut perilaku menyimpang karena orang lain/masytarakat memaknai dan menamainya (labeling) sebagai perilaku menyimpang. Jika orang/ masyarakat tidak menyebut sebuah tindakan sebagai perilaku menyimpang, maka perilaku menyimpang itu tidak ada. Penyebutan sebuah tindakan parilaku menyimpang sangat bergantung pada proses deteksi, definisi, dan tanggapan  seseorang terhadap sebuah tindakan.
Sebagai contoh, sekolompok masyarakat disebuah desa difilipina melakukan tindakan sabung ayam sebagian penduduk Filipina tindakan itu ternyata merupakan ritual penting untuk menghayati kehidupan yang jujur. Jadi, proses deteksi, definisi, dan tanggapan seseorang terhadap tindakan sabung ayam akan sangat menentukan penamaan (labeling) tindakan itu, apakah tindakan itu akan disebut perilaku menyimpang ataukah kegiatan ritual.
Bagi Erving Goffman, perilaku menyimpang terjadi karena adanya stigma. Adalah penamaan yang sangat negatif kepada seseorang /kelompok sehingga mampu mengubah secara radikal konsep diri dan identitas social mereka. Adanya stigma akan membuat seseorang atau sebuah kelompok negatif dan diabaikan, sehingga mereka disisihkan secara sosial.
Lebih lanjut, menurut Harold Garfinkel ada kalanya masyarakat secara formal melakukan stigmatisasi melalui tata cara penghinaan (dengan – dation ceremony) .Stigmatisasi ini menjadi orang sakit secara mental (mental illness). Akibat selanjutnya, mereka terus menerus melakukan perilaku menyimpang.
Contoh, stigmatisasi yang pada umumnya dilakukan oleh masyrakat terhadap mantan nara pidana. Masyarakat umumnya menganggap mereka tak bisa menjadi orang baik – baik. Karena itu, umumnya mereka padahal, demikian menurut Thomas Szasz,sesungguhnya para nara pidana itu tidak mengalami sakit mental kalau mereka tidak dikenai stigmatisasi. Sebab, pada dasarnya sakit mental hanyalah sebuah mitos. Tetapi, stigmatisasi telah membuat mereka percaya pada mitos itu. Maka, disini berlaku dalil Thomas szasz, yang menyatakan:” situasi yang dianggap nyata akan benar- benar menjadi nyata” (situations defined as real become real in their consequences).
Teori sosialisasi
Pandangan dasar teori ini adalah bahwa penyimpangan sosial merupakan produk dari proses sosialisasi yang kurang sempurna atau gagal
Menurut Alberet Bandura dan Richard H.Walters misalnya, Anak-anak belajar prilaku menyimpang dengan mengamati dan meniru orang lain yang memiliki prilaku menyimpang. Khusus nya,mereka mengamati dan meniru orang yang dekat dengannya.
Selanjutnya, menurut Deborah M. Capaldi dan Gerald M.peterson, Anak-anak yang agresif umumnya berasal dari keluarga yang orang tuanya terlalu keras atau agresif. Akibatnya, anak kehilangan teladan pngendalian diri dan mungkin menanggapi hukuman dengan meningkatkan agresif. Intinya, perilaku menyimpang di hasilkan oleh proses sosialisasi yang sama dengan perilaku itu.
Sementara itu, menurut Mark S. Gaylord dan john F. galliher serta Edwin Sutherland, orang yang memiliki perilaku menyimpang cenderung  memiliki ikatan dengan orang lain yang memiliki perilaku menyimpang, dimana orang tersebut  mengokohkan Norma-norma dan nilai –nilai yang menyimpang. Perinsipnya, setiap kelompok sosial akan mewariskan nilai-nilai dan Norma-norma kelompoknya kepada anggota –anggota baru.
Kaum mudah pada umumnya sangat terbuka terhadap norma, perilaku, Dan Nilai-nilai yang berasal dari subkultur berbeda, termasuk subkultur perilku menyimpang. Karna itu,menurut Ronald R.Akers  perilaku Teman –teman dekat merupakan sarana yang paling baik untuk memprediksi apakah perilaku seorang anak mudah sesuai dengan norma yang berlaku ataukah perilaku menyimpang
Teori keterangan
Teori ketegangan  ( strain theory) dikemukakan oleh Robert K.Merton. Ia menyatakan bahwa perilaku menyimpang ditentukan oleh seberapa baik sebuah masyarakat mampu menciptakan keselarasan antara aspirasi warga masyarakat (missal, pekerjaan). Jika tidak keselarasan antara anspirasi-anspirasi warga masyarakat dengan ncara-cara legal yang ada, maka akan lahir perilaku menyimpang.
Jadi, perilaku menyimpang merupakan akibat dari adanya ketegangan antara anspirasi apa yang dianggap bernilai oleh warga masyarakat dan cara pencapaian anspirasi yang dianggap sah oleh masyarakat.
Terkait dengan perilaku menyimpang, merton memetakan adanya lima kemungkinan sikap seorang terhadap norma yang ada. Kelima kemungkinan sikap itu adalah : Konformitas (conformity),  inovasi (innovation),ritualisme (ritualism),retreatisme (rewtreatism), dan pemberontakan (rebellion).
Konformitas adalah kesediaan seseorang untuk menyesiaikan diri dengan norma yang ada dalam mewujudkan anspirasi/apa yang dianggap bernilai oleh masyarakat. Contoh, masyarakat menganggap bahwa kesuksesan hidup dicapai melalui kesuksesan materi. Karena itu, seorang yang ingin sukses berusaha mencapai kekayaan materi dengan bekerja keras mengoptimalkan semua potensi yang dimilikinya.
Namun, tidak semua orang memiliki talenta memadai untuk mencapai hidup sukses. Seseorang yang dilahirkan dalam keluarga yang sangat miskin misalnya, merasa tidak mungkin meraih sukses dengan mengikuti norma yang ada. Karena itu, ia mungkin akan berusaha meraih kesuksesan hidup dengan menempuh perilaku menyimpang, misalnya menjadi pengedar narkoba. Merton menyebut hal ini sebagai inovasi, yaitu upaya untuk mewujudkan aspirasi/apa yang dianggap bernilai dengan cara-cara tidak biasa /non –konvensional.
Sementara itu, ada pula warga masyarakat yang merasa memiliki hambatan untuk meraih kesuksesan hidup dengan cara yang sesuai dengan norma yang ada. Namun, ia tak bersedia untuk melanggar norma demi mewujudkan aspirasinya.Ia bersedia mengorbankan aspirasinya demi ketaatan kepada norma yang ada. Warga yang demikian, oleh Merton disebut bersikap litualisme.Menurut merton, hal ini sering terjadi dikalangan birokrat rendahan.
Disisi lain adapula warga masyarakat yang merasa memiliki hambatan untuk meraih kesuksesan hidup dengan cara yang sesuai dengan norma yang ada. Ia juga tak bersedia untuk melanggar norma demi mewujudka aspirasinya. Namun, ia bersikap menolak aspirasi/apa yang dianggap bernilai  norma yang ada dengan “menarik diri” dari masyarakat dengan berperilaku apatis terhadap keadaan atau melarikan diri dalam kebiasaan mengkonsumsi minuman  keras dan perilaku menyimpang lainnya. Warga yang bersikap demikian, oleh Merton disebut retreatisme.
Bentuk perilaku menyimpang yang keempat disebut pemberontakan. Seperti retreatisme ,pemberontakan menolak pandangan masyarakat mengenai apa yang dianggap bernilai dan juga norma-norma yang berlaku untuk mewujudkannya. Namun, Ia bukannya menarik diri dari masyarakat dan budaya  yang berlaku, melainkan berusaha secara radikal untuk  menggantikan nilai dan norma yang ada dengan nilai dan norma yang sama sekali baru. Pemberontakan politik atau keagamaan  umumnya termasuk kategori ini.
Teori Diforganisasi Sosial
Komsep tentang disorganisasi sosial di dasarkan pada karya  wilyam  l. Thomas dan florian znaneicki  serta karya Clifford Shaw dan henry McKay. Istilah di sorganisasikan sosail mengacu pada penjelasan mengenai perilaku menyimpang dan kondisi masyarakat yang menyebabkannya.
Menurut teori ini perilaku menyimpang merupakan produk dari perkembangan masyarakat yang tak seimbang. Di dalam terjadi perubahan dan konflik yang berdampak pada prilaku masrayakat.
Teori ini menekankan bahwa masyarakat teorganisasi bila anggota masyarakat membangun kesepakatan mengenai nilai dan norma funda mental sebangai dasar tindakan bersama. Organisasi sosial atau sosial terwujud ketika ada ikatan yang kuat di antara Indifudu-indufidu. Dan lembaga-lembaga dalam masyarakat. Ikatan ini  mengikuti ke sepakatan luas mengenai tujuan yang di hargai dan di perjuangkan . Dengan demikian, di sorganisasi sosial adalah kekacauan sosial .
Teori di sorganisasi sosial percaya , bahwa di sorganisasi sosial terjadi di sebagian besar kehidupan kota. Masyarakat kota di jadikan laboratorium studi mengenai prilaku menyimpang dan kejahatan penganut teori ini memusat penelitian pada di sorganisasi di wilaya lokal, Tempat-tempat kumuh atau pusat kota yang banyak terjadi kejahatan trostitusi, Bunih diri, dan berbangai bentuk, prilaku menyimpang lainnya.
Dalam pandangan teori ini , pola lingkungan kehidupan kota melahirkan disorganisasi sosial, yang mengakibatkan terjadinya prilaku menyimpang dan kejahatan.
Teori anomi
 Emile Durkheim,sosiolog dari prancis, memperkenalkan pada anomi (anomie) dalam karyanya yang terkenal The tahun 1893. Ia menggunakan konsep anomi untuk mendeskripsikan kondisi tanpa norma yang terjadi dalam masyarakat. Anomi berarti runtuhnya norma mengenai bagaimana masyarakat seharusnya bersikap terhadap yang lain. Masyarakat tidak tahu lagi apa yang bisa diharapkan dari orang lain. Kondsi itu, menurut Durkheim, akan melahirkan perilaku menyimpang.
Pada tahun 1897, Durkheim menggunakan kembali istilah anomi dalam penelitiannya mengenai bunuh diri (suicide) , yang mengacu pada kondisi tanpa norma moral. Disini Durkheim tertarik dengan dampak
Teori Konflik
Menurut teori ini, perilaku menyimpang merupakan akibat dari ketidaksamaan dalam masyarakat. Teori ini menekankan bahwa seseorang atau perbuatan yang disebut perilaku menyimpang tergantung pada kekuasaan relative dari kelompok masyarakat.
Alexander Liazos (1972) mencatat bahwa konsep umum mengenai perilaku menyimpang misalnya orang gila, pelacur, gelandangan menunjuk pada masyarakat yang tidak memiliki kekuasaan. Mereka diberi stigma sebagai pelaku perilaku menyimpang.
Menurut teori konflik, gejala perilaku menyimpang terkait dengan praktik kekuasaan yang tidak adil. Hal itu tampak dalam ketiga hal berikut.
ü  Norma-norma khususnya norma hukum dari setiap masyarakat pada umumnya menguntungkan mereka yang kaya dan berkuasa.Karl Marx mengatakan bahwa hukum (bersama dengan lembaga sosial yang lain) cenderung mendukung kepentingan kaum kaya. Senada dengan Marx, Richard Quinney menyatakan bahwa keadilan kapitalis dilakukan oleh kelas kapitalis, untuk melawan kelas buruh.
ü  Jika perilaku kaum kaya dan berkuasa dipersoalkan, mereka memiliki berbagai sarana untuk menolak sebutan sebagai pelaku perilaku menyimpang. Berbagai kasus hukum di Indonesia dengan sangat jelas menunjukkan hal ini. Seorang tukang becak yang baru pertama kali mencuri uang Rp. 5.000,00 akan segera dipukuli massa dan dianggap sebagai pencuri. Sementara itu pelaku korupsi milyaran bisa melenggang dengan gembira.
ü  Norma-norma dan hukum merupakan topeng yang sangat baik untuk menutupi berbagai perilaku curang kaum kaya dan berkuasa. Banyak orang mengutuk penerapan hokum yang sering tidak sama. Namun, mereka tidak memperhatikan bahwa sesungguhnya aturan hukum itu sendiri tidak adil. Karena itu, aturan hukum sering kali merupakan topeng bagi kejahatan yang dilakukan oleh mereka yang kaya dan berkuasa.


B.       ANALISIS
1.  Faktor yang menyebabkan Perilaku Menyimpang
·           Perbedaan status (kesenjangan) sosial antara si kaya dan si miskin yang sangat mencolok mengakibatkan timbulnya rasa iri dan dengki sehingga terjadilah pencurian dan saling ejek.
·           Ketidaksanggupan menyerap norma-norma kebudayaan. Karena ketidaksanggupan menyerap norma-norma kebudayaan kedalam kepribadiannya maka seorang individu tidak mampu membedakan perilaku yang pantas dan perilaku yang tidak pantas bagi masyarakat di sekitarnya.
·           Sikap mental yang tidak sehat membuat orang tidak pernah merasa bersalah atau menyesali perilakunya yang dianggap menyimpang.
·           Kriminolog Italia Cesare Lombroso berpendapat bahwa orang jahat dicirikan dengan ukuran rahang dan tulang-tulang pipi panjang, kelainan pada mata yang khas, tangan-tangan, jari-jari kaki serta tangan relatif besar, dan susunan gigi yang abnormal.
·           Proses belajar yang menyimpang. Seseorang yang melakukan tindakan menyimpang karena seringnya membaca atau melihat tayangan tentang perilaku menyimpang. Hal itu dapat membuat seseorang ingin meniru tokoh yang ada di tayangan tersebut walaupun itu adalah termasuk perilaku menyimpang.
·           Penyimpangan karena hasil proses sosialisasi subkebudayaan menyimpang. Subkebudayaan adalah suatu kebudayaan khusus yang normanya bertentangan dengan norma-norma budaya yang dominan. Unsur budaya menyimpang meliputi perilaku dan nilai-nilai yang dimiliki oleh anggota-anggota kelompok yang bertentangan dengan tata tertib masyarakat.
·           Lingkungan pergaulan sangat mempengaruhi perkembangan sikap dan perilaku seseorang. Biasanya orang akan mengikuti dan beradaptasi dengan lingkungan pergaulannya walaupun itu sudah termasuk perilaku menyimpang.
·           Ketegangan antara kebudayaan dan struktur sosial. Terjadinya ketegangan antara kebudayaan dan struktur sosial dapat mengakibatkan perilaku yang menyimpang. Hal itu terjadi jika dalam upaya mencapai suatu tujuan seseorang tidak memperoleh peluang, sehingga ia mengupayakan peluang itu sendiri, maka terjadilah perilaku menyimpang.
·           Banyaknya pemuda yang putus sekolah menyebabkan hilangnya kesempatan untuk mencari kerja. Akibatnya mereka harus menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang walaupun itu termasuk perilaku menyimpang seperti mengemis atau mencuri.
·           Ikatan sosial yang berlainan. Setiap orang biasanya berhubungan dengan beberapa kelompok yang berbeda. Hubungan dengan kelompok-kelompok tersebut akan cenderung membuatnya mengidentifikasi diri dengan kelompokyang paling dihargainya. Dalam hubungan ini individu akan memperoleh pola-pola sikap dari perilaku kelopoknya. Jika perlaku kelompok tersebut menyimpang maka kemungkinan besar ia juga akan menunjukkan pola-pola perilaku menyimpang.
·           Ketidakharmonisan keluarga memicu stres terutama pada anak remaja. Mereka menjadi semakin labil karena tidak mendapat perhatian dari orangtuanya.
·           Mencari perhatian juga menjadi sebab terjadinya perilaku menyimpang. Kemungkinan itu disebabkan oleh kurangnya perhatian dari orangtua dan gurunya sehingga dia selalu berusaha untuk mendapatkan perhatian dari orang lain walaupun itu menyimpang.
·           Dorongan ekonomi biasanya menjadi faktor utama untuk melakukan suatu perilaku menyimpang. Contoh adalah seperti orang yang mencuri karena terdesak dengan kebutuhan pokoknya yang tidak terpenuhi.
·           Kegagalan dalam proses sosialisasi. Keluarga inti maupun keluarga luas bertanggung jawab terhadap penanaman nilai dan norma pada anak. Kegagalan proses pendidikan dalam keluarga menyebabkan terjadinya penyimpangan.
·           Labelling. Faktor pelabelan pertama kali di ungkapkan oleh Edwin M. Lemert dalam teori pelabelan. Menurutnya seseorang melakukan perilaku menyimpang diberi cap (label negatif) oleh masyarakat.

2.  bentuk perilaku menyimpang siswa SMAN 3 TEGAL di lingkungan sekolah ?

Di pagi hari ketika bel masuk sudah berbunyi, hampir setiap hari masih banyak siswa yang belum sampai di sekolah, dengan kata lain banyak siswa yang terlambat. Sehingga tempat parkiran terlihat berantakan karena siswa yang terlambat tersebut meletakkan kendaraanya dari arah berlawanan jadi siswa tersebut hanya sembarangan meletakkan.
Ketika KBM berlangsung, banyak siswa yang berkeliaran terutama pada saat jam pelajaran kosong. Adapula siswa yang tanpa sepengetahuan guru menggunakan ponsel, dan menyalahgunakan laptop untuk membuka situs yang kurang penting. Hal ini menyebabkan banyak siswa yang tidak mengerjakan tugas karena siswa tersebut tidak memperhatikan penjelasan yang disampaikan oleh guru. Pada saat jam pelajaran terakhir adalah jam kosong, siswa berkeliaran pulang sebelum bel pulang berbunyi.
Saat upacara berlangsung, beberapa siswa atau peserta upacara tidak hidmat dalam mengikuti upacara bendera yang sedang berlangsung. Sehingga menyebabkan keributan saat pembina upacara berbicara. Adapula beberapa siswa yang terlihat tidak menggunakan atribut upacara lengkap, seperti dasi maupun topi.
Penyimpangan lain yang terjadi ada hubungannya dengan kedisiplinan. Misalnya, sebagian siswa laki-laki berpakaian kurang rapi dari mulai pakaian yang keluar, rambut yang memanjang dan sepatu yang berwarna selain hitam. Dan jika diperhatikan lebih banyak siswa yang lebih memilih berduduk duduk santai di kantin atau diteras kelas dibandingkan pergi membaca di perpustakaan. Dari mushola juga bisa dilihat, bahwa alat sholat terlihat kurang rapi atau berantakan dikarenakan banyak siswi yang tidak merapikan kembali mukenah yang telah digunakan.












BAB V
PENUTUP

A.      KESIMPULAN
Dari hasil pengamatan yang telah di lakukan, kami menyimpulkan bahwa hampir semua siswa di SMA Negeri 3 Tegal pernah melakukan penyimpangan baik yang bersifat sederhana maupun bersifat berlebihan atau keterlaluan. Dalam hal ini guru ikut berperan penting untuk membantu siswa mengendalikan penyimpangan yang terjadi di sekolah dengan memberikan bimbingan konseling maupun melaui bantuan bimbingan orang tua, sehingga dapat mengurangi gangguan serta dampak negatif yang suatu saat akan menimbukan dampak negatif  dan merugikan diri sendiri maupun orang lain.
B.      SARAN
Sangat diharapkan kepada siswa siswi SMA Negeri 3 Tegal untuk mematuhi peraturan yang berlaku, sehingga dapat mewujudkan lingkungan sekolah yang aman dan damai.
Saran selanjutnya diberikan kepada guru BK untuk lebih tegas lagi memberi hukuman terhadap siswa – siswi yang melanggar tata tertib sekolah. Dengan demikian siswa menjadu lebih segan terhadap peraturan sekolah.
Yang terakhir diberikan kepada pembaca, agar lebih meatuhi tata tertib yang ada, dan tidak segan-segan untuk menegur siswa/siswi yang melanggar tata tertib dan atau berperilaku kurang sopan.








[1]Moleong. op.cit. hlm. 330.




²Miles dan Huberman, 1984.
.



 

Pikacyuu Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review